Recently Published
Conference paper

Potensi Beberapa Isolat Probiotik sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Vibrio Spp.

Conference paper

Efek Farmakologi Pegagan (Centella Asiatica (L.) Urban) sebagai Suplemen Pemacu Daya Ingat

Conference paper

Seleksi Aktinomisetes Isolat Lokal dari Tanah Gambut Riau sebagai Antipatogen pada Streptococcus Pyogenes

Conference paper

Kajian Infertilitas Pria dan Usaha Penanganannya

Conference paper

Potensi Beberapa Isolat Probiotik sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Vibrio Spp.

Conference paper

Efek Farmakologi Pegagan (Centella Asiatica (L.) Urban) sebagai Suplemen Pemacu Daya Ingat

Conference paper

Seleksi Aktinomisetes Isolat Lokal dari Tanah Gambut Riau sebagai Antipatogen pada Streptococcus Pyogenes

Conference paper

Kajian Infertilitas Pria dan Usaha Penanganannya

Most Viewed
Conference paper

Morfologi Trema Orientalis (L.) Blume dan Manfaatnya sebagai Tanaman Pionir Restorasi Tambang Nikel

Pertambangan nikel merupakan penambangan terbuka yang meninggalkan kondisi ekosistem dan tapak yang rusak. Perlu dilakukan restorasi agar dapat kembali atau mendekati ekosistem sebelumnya. Bagian penting dari restorasi diantaranya adalah revegetasi menggunakan tumbuhan lokal. Salah satu jenis lokal yang diketahui tumbuh secara alami di sekitar areal penambangan nikel di Sulawesi adalah Trema orientalis (L.) Blume. Agar dapat dimanfaatkan secara maksimal, perlu diketahui mengenai morfologinya seperti alat hara (akar, batang, dan daun) dan alat perkembangbiakan (bunga, buah dan biji). Areal pengamatan pada daerah pasca tambang nikel dan sekitarnya di Konawe Utara menunjukkan bahwa T. orientalis tumbuh pada ketinggian 100 – 135 mdpl, keadaan topografi datar sampai curam dengan kemiringan berkisar 15-45 %. Akar T. orientalis berupa akar tunggang (radix primaria), batang berkayu (lignosus) dengan tinggi pohon dapat mencapai 10 – 25 m dan diameter 5-30 cm, daun tunggal (folium simplex), bunga berada pada ketiak daun (flos lateralis) yang membentuk malai (panicula), buah sejati tunggal berdaging (carnosus) dan ukuran biji berkisar antara 1,5 – 2,5 mm dengan berat rata-rata 1,5 mg. T. orientalis tergolong sebagai jenis intoleran, dapat tumbuh dan beregenerasi dengan baik di daerah terbuka, dapat berproduksi generatif (berbunga dan berbuah) pada usia muda, merupakan pakan burung sehingga pemencarannya cukup luas dan bersimbiosis dengan Fungi Mikoriza Arbuskula. T. orientalis adalah salah satu jenis fast growing species yang potensial digunakan sebagai tanaman pionir untuk merestorasi lahan kritis, khusunya lahan bekas tambang nikel. Diketahuinya morfologi T. orientalis diharapakan dapat dijadikan informasi dalam mengidentifikasi jenis di lapangan maupun sebagai pertimbangan dalam melakukan teknik budidayanya.
Conference paper

Menggunakan Fragmen Epidermis di Feses untuk Identifikasi Tumbuhan Pakan Herbivor: Studi Seleksi Tumbuhan Pakan oleh Rusa Timor (Cervus Timorensis) di Pulau Menjangan Bali

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis tumbuhan yang dimakan oleh herbivor (rusa timor) dari fragmen epidermis yang ada di feses. Studi dilakukan di Pulau Menjangan Bali pada bulan Juni-Juli 2016. Feses rusa timor dikoleksi dari 4 unit grazing rusa timor (savana dan hutan musim). Preparat acuan (fragmen epidermis acuan/reference slides) dibuat dari bagian daun tiap jenis tumbuhan yang tersedia di unit habitat. Sampel feses yang dikoleksi digiling halus dan direndam dengan NaClO untuk pembuatan preparat mikrohistologi sampel feses. Identifikasi spesies tumbuhan yang dimakan dari praparat feses dilakukan dengan membandingkan bentuk dan struktur sel-sel fragmen epidermis dengan praparat acuan. Hasil penelitian menunjukkan gambaran sel sel epidermis, sel tetangga, dan sel penutup stomata yang khas pada tiap spesies. Sehingga gambaran fragmen epidermis di feses bisa untuk identifikasi jenis tumbuhan yang dimakan oleh herbivor. Fragmen epidermis kelompok tumbuhan rerumputan (graminoids) menunjukkan sel panjang dan sel pendek dan stomata berada diantara sel-sel panjang, stomata berbentuk halter. Fragmen epidermis kelompok tumbuhan daun lebar (forbs, woodys) menunjukkan variasi bentuk dan susunan sel epidermisnya, ada sel tetangga yang tidak berbeda dengan sel epidermis lainnya dan ada pula yang sel tetangganya berbeda dengan sel epidermis lainnya, bentuk stomata seperti ginjal. Derivat epidermis lainnya yang juga teramati di feses adalah trikomata.
Conference paper

Ragam Peta Konsep Penunjang Model Pembelajaran Biologi Berbasis Remap Coople

Conference paper

Analisis terhadap Densitas Larva Nyamuk Aedes Aegypti (Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue/DBD)

Conference paper

Isolasi dan Karakterisasi Jamur Patogen pada Tanaman Murbei (Morus SP.) di Persemaian

Conference paper

Ragam Peta Konsep Penunjang Model Pembelajaran Biologi Berbasis Remap Coople

Conference paper

Analisis terhadap Densitas Larva Nyamuk Aedes Aegypti (Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue/DBD)

Conference paper

Isolasi dan Karakterisasi Jamur Patogen pada Tanaman Murbei (Morus SP.) di Persemaian

Suggested For You
Conference paper

Perspektif Nano Science Dalam Ilmu Hayati (the Whole is Greater and Smarter Than the Sum of the Parts)

Dalam dekade belakangan mulai terasa bahwa dunia tempat hidup kita semakin tidak dapat diramalkan, pendekatan pemikiran linier yang selama ini diandalkan terasa tidak lagi efektif. Berbagai kejadian seperti munculnya penyakit baru, cara penyebaran penyakit, resistensi mikroba dan hama terhadap antibiotik dan pestisida, gempa bumi, pemanasan global, fenomena-fenomena semacam lumpur Lapindo maupun efek samping dari setiap penerapan teknologi yang bersifat antroposentrik telah menunjukkan bahwa alam sesungguhnya tidak sesederhana yang dipikirkan. Pemahaman yang lebih baik terhadap fenomena alam, ternyata justru semakin menyadarkan bahwa alam adalah misterius dan bersifat non linear, yang tidak dapat dipahami hanya dengan pendekatan disiplin ilmu seperti yang selama ini dilakukan oleh banyak pemikir di Universitas maupun lembaga penelitian ilmiah. Alam menunjukkan adanya fenomena (emergent) berbeda di setiap jenjangnya ketika diamati oleh manusia. Setiap jenjang ukuran memiliki pola dan partisipan interkoneksinya masing-masing. Hukum dan penampakannya pun tidak sam, mulai dari jenjang subatomic sampai dengan kejadian-kejadian dengan partisipan berupa benda dan gaya di luar angkasa. Hal ini membuat pihak merasakan perlunya memiliki pemikiran baru agar tidak salah dan tersesat ketika memahami dan dan berimajinasi tentang fenomena alam.
Take the red pill. Enhance your publishing experience.
This academic conference is powered by Neliti, a free website builder for academic content providers. Migrate your repository, journal or conference to Neliti now and discover a world of publishing opportunities. Migrate Now right-arrow-icon