Metrics

  • visibility 680 views
  • get_app 226 downloads

Penggunaan Batu Karang, Tanah sebagai Pengganti Agregat dalam Pembuatan Beton K-175 untuk Bangunan Sederhana

Mekar Ria Pangaribuan, Narlis Narlis
Published 2015

Abstract

Pulau Enggano adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara yang merupakan pulau terluar dan untuk menuju kesana diperlukan waktu 12 jam dari Pelabuhan Pulaubaai di Bengkulu dengan menggunakan kapal laut menyebrangi Samudera Indonesia yang luas. Selama ini material untuk membuat bangunan selalu dibawa dari Bengkulu, sehingga biaya untuk membangun sebuah rumah sangat tinggi. Pulau Enggano memiliki potensi alam yang berupa material batu karang sepanjang pantai, tanahnya yang berwarna kekuningan bercampur pasir, dan air payau, serta gunung kapur. Hal inilah yang menjadikan peneliti untuk membuat mix desain mendapatkan beton K.175 berdasarkan hasil pemeriksaan bahan dan pengujian untuk membuat beton dengan memanfaatkan material lokal sebagai pengganti agregat kasar dan agregat halus. Metode penelitian meliputi: uji air, pemeriksaan analisa gradasi (Sieve Analysis) agregat halus (Pasir Enggano), pemeriksaan kadar air, kadar lumpur, berat isi agregat, dan berat jenis, penyerapan agregat, dan perencanaan c ampuran beton (Mix Desain), melakukan pengujian kuat tekan kubus beton yang dihasilkannya. Penelitian dilakukan di dua tempat yaitu di Pulau Enggano untuk pengambilan sampel kemudian sampel di uji di BKB3 Provinsi Bengkulu dari bulan April sampai dengan Ag ustus 2015. Setelah dilakukan pemeriksaan di Balai Konstruksi Beton dan Bahan Bangunan Provinsi Bengkulu terhadap tanah Enggano dan split karang 2/3 ini memiliki karateristik sebagai berikut: a) hasil pemeriksaan gradasi , pasir/agregat halus tersebut mas uk ke dalam zone 3, dengan modulus kehalusan pasir 2,876, layak untuk dijadikan agregat halus pada pembuatan beton. Sedangkan split karang 2/3 sebagai agregat kasar tersebut masuk ke dalam zone kasar butiran 38.1 – 4.76 karena sebagian besar nilai gradasi yang diperoleh masuk ke dalam batasan zone ini, dengan modulus kehalusan split karang 2/3 adalah 3,39, artinya supaya split karang 2/3 dapat dijadikan pengganti koral, hasil desain pencampuran material pembentuknya ditingkatkan menjadi 45%, b) hasil uji kadar air agregat kasar (3,05 %) lebih besar nilainya daripada kadar air agregat halus (2,65 %) artinya bahwa agregat kasar yang berukuran lebih besar dan memiliki rongga-rongga pada permukaan yang lebih banyak, memiliki kemampuan untuk menyerap air lebih banyak dibandingkan agregat halus, c) hasil uji kadar lumpur pada tanah/pasir Enggano adalah 2,95 %. Artinya, kadar lumpur pada agregat halus yang digunakan memenuhi syarat karena kurang dari 5%, sehingga lumpur bisa menyatu dengan semen. Untuk kandungan lumpur batu karang split 2/3 didapatkan sebesar 0,2%, sedangkan syarat untuk campuran beton, kerikil memiliki kandungan lumpur maksimum 1%. Jadi, karang split 2/3 tersebut memenuhi syarat, untuk diperhatikan sebelum digunakan karang split 2/3 dicuci untuk mengurangi kadar lumpurnya dan dikeringkan dipanas matahari selama 2-3 hari, d) hasil pengujian berat isi agregat halus relatif lebih besar (1.346 kg/m3) untuk kondisi padat daripada berat volume agregat kasar (840,6 kg/m3). Hal ini terjadi karena sifat material agregat, yaitu bahwa untuk suatu volume yang sama, agregat halus memiliki berat yang lebih besar daripada agregat kasar, e) berat jenis kerikil SSD (Saturated Surface Dry) agregat kasar yang diperoleh adalah 1,806. Berat jenis Agregat ini mendekati berat jenis agregat ringan yang memiliki batasan kurang dari 2,5 gr/cm3, sedangkan berat jenis pasir SSD (Saturated Surface Dry) yang diperoleh adalah 2,647 gr/cm3 dengan penyerapan air sebesar 0,0273 %. Adapun proporsi/komposisi bahan untuk 1m3 beton didapatkan kebutuhan: semen: 303,57 kg, air: 170 liter, agregat halus/ tanah Enggano: 707,14 kg, agregat kasar/ split karang 2/3: 2,85 kg. Hasil pengujian kuat tekan beton terhadap kubus, tercapai kuat tekan yang diinginkan yaitu K.175 dengan sampel umur 28 hari (Benda Uji 1: 290,073 kg/cm2, Benda Uji 2: 203,17 kg/cm2, Benda Uji 3: 177,773 kg/cm2). Sedangkan hasil analisa teknis biaya pembuatan 1m3 beton mutu K.175 Slump (12 ± 2) Cm ada selisih 9.207.930,60 per m3 apabila menggunakan material setempat (semen tetap didatangkan dari Bengkulu).

Full text

 

Metrics

  • visibility 680 views
  • get_app 226 downloads