Recently Published

Preparation of Alkyl Halide as Intermediate Compound in Synthesis Cationic Surfactant Alkyl Trimethyl Ammonium Chloride

Evaluation of Uncertainty in the Determination of Pesticide Residues in Tea Using GC-ECD

Cover

Effect of Combining Electron Beam Irradiation and Alkaline Pretreatments of OPEFB for Enzymatic Hydrolysis and Fermentation of Ethanol

Journal article

Antimicrobial Activity of Methanol Extract From Stem Bark of Cinnamomum Sintoc

Journal article

Math Instructional Media Design Using Computer for Completion of Two-variables Linear Equation System by Elimination Method*

Journal article

Analgetic Activity of Cep-cepan (Saurauia Cauliflora Dc.) Leaves Extract

Journal article

Antimicrobial Activity of Methanol Extract From Stem Bark of Cinnamomum Sintoc

Journal article

Math Instructional Media Design Using Computer for Completion of Two-variables Linear Equation System by Elimination Method*

Journal article

Analgetic Activity of Cep-cepan (Saurauia Cauliflora Dc.) Leaves Extract

Most Viewed
Journal article

Perkembangan Teknologi Dan Tantangan Dalam Riset Bioetanol Di Indonesia

Bioetanol merupakan andalan untuk mengurangi penggunaan BBM non diesel untuk transportasi. Penelitian untuk mencari bahan baku dan proses yang ekonomis serta ramah lingkungan menjadi kegiatan riset di berbagai Negara, terutama sejak terjadinya krisis BBM akibat peningkatan konsumsi BBM diseluruh dunia diawal tahun 1970an.Berdasarkan bahan baku yang dipakai, bioetanol dikelompokkan menjadi bioetanol generasi pertama yang dibuat dari gula, atau pati, dan generasi kedua adalah yang dibuat dari lignoselulosa, disebut sebagai Etanol Selulosa. Generasi ketiga dibuat dari alga disebut sebagai Etanol Alga, dan generasi keempat dibuat dari bahan hasil modifikasi genetika atau bahan lainnya, disebut sebagai Advanced Bioethanol dalam kelompok Advanced Biofuels.Indonesia, sebagai Negara beriklim tropis, memiliki berbagai tanaman penghasil pati, lignoselulosa, alga dan berbagai limbah organik untuk pembuatan bioetanol.Industri bioetanol di Indonesia masih memanfaatkan komoditi pangan seperti ubi kayu dan molase tebu sebagai bahan baku, sedangkan lembaga litbang dan perguruan tinggi sudah melakukan penelitian membuat bioetanol generasi kedua maupun ketiga. Pemerintah Indonesia berupaya untuk meningkatkan penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan non diesel sampai mencapai 15 % etanol dalam campuran (E-15) pada tahun 2025. Dibanyak Negara, pemanfaatan etanol untuk bahan bakar kendaraan sudah bervariasi dari campuran E-10 sampai dengan E-85.Tinjauan ini mengungkap perkembangan teknologi pada setiap generasi, dan mengindikasikan tantangan yang dihadapi lembaga litbang di dalam negeri dalam mengembangkan teknologi pembuatan bioetanol dari biomasa lokal. Area penelitian yang prospektif dalam bidang ini juga dikemukakan.Kata Kunci : bioetanol, molase tebu, generasi, perkembangan teknologi, tantangan riset.  Bioethanol is a potential energy source to reduce gasoline utilization for transportation. Research activities to find out raw material and environmentally and economically process have been conducted in many countries especially after the oil crisis in early 1970s. Based on raw material processed, bioethanol is grouped into first, second, third and fourth generations. The first generation is derived from sugar or starch, the second generation is derived from lignocellulosic biomass, called as cellulosic ethanol. The third generation is produced from algae, called as Ethanol Algae, while the fourth generation is grouped as advanced biofuels.Indonesia, as a tropical country, posseses various kind of starchy plant, lignocellulosic materials, various species of algae, and organic wastes for ethanol production. Local bioethanol industries utilize food materials such as cassava and sugarcane molasse as feedstock, while universities and R&D institutions have conducted researches to produce the second or the third generations bioethanol. The government of Indonesia has planned to increase utilization of bioethanol in bioethanol-gasoline mixture for transportation up to 15 % (E-15) by 2025. In many countries, utilization of bioethanol for transportation vary in a range from E10 to E 85.This review shows technology development at each generations, and indicates challenges for local R&D institutions in order to develop technology for bioethanol production utilizing local biomass. Prospectives research areas in the field are also highlighted.
Journal article

Pemanfaatan Sistem Microbial Fuel Cell Dalam Menghasilkan Listrik Pada Pengolahan Air Limbah Industri Pangan

Microbial Fuel Cell (MFC) dapat langsung menghasilkan listrik dari oksidasi bahan organik yangterkandung dalam suatu larutan. Dibutuhkan suatu optimalisasi sistem MFC yang mencakup beberapa faktoruntuk meningkatkan hasil listrik seperti jenis media penukar kation, elektroda, luas permukaan elektroda, dandurasi reaksi. Penelitian dilakukan untuk melihat kinerja sistem MFC pada pengolahan air limbah industripangan, dalam hal ini tahu dan cucian beras (catering), dengan menggunakan tembaga sebagai elektroda, membran Poli Eter Eter Keton Tersulfonasi (SPEEK) sebagai media penukar kation, dan menggunakan mediasubstrat limbah. MFC diamati selama 80 jam. Pengukuran tegangan yang dihasilkan dilakukan setiap 4 jam.Tegangan maksimum yang dihasilkan pada media limbah tahu mencapai 80 mV (pada jam ke-28). Selama 52jam berikutnya, tegangan sedikit menurun. Sedangkan pada air limbah cucian beras, tegangan maksimum terjadipada jam ke-60 yaitu 234 mV. Selama proses 80 jam, melalui sistem MFC pada media limbah tahu, CODmampu turun 49,33% dari 6750 mg/L menjadi 3420 mg/L. Sedangkan pada limbah cucian beras, COD turundari 18840 mg/L menjadi 10560 mg/L atau sebesar 43,95 % selama 80 jam.
Suggested For You
Journal article

Activity Test of Abrus Precatorius L. Leaf Extract Against Clinical Streptococcus Pneumonia Growth*

. Saga (Abrus precatorius L.) have been used by Indonesian community as a traditional medicine. The research aims to determine the activity of the methanol extract of saga leaves to inhibit the growth of clinical Streptococcus pneumoniae growth. Inhibition tests was done with casting cup method. The results showed that the methanol extract of saga leaves at a concentration of 37,5; 50; 62,5; 75 and 87,5 mg/mL formed growth inhibition zone of clinical S. pneumoniae with consecutive average of 0,5; 1,75; 2,82; 4,00; and 4,82 mm. Based on the results of the research can be concluded that the methanol extract of saga leaves had activity in inhibiting the growth of clinical S. pneumoniae isolates with low category.
Journal article

Kandungan Inulin Dari Umbi Dahliasp Yang Ditanam Pada Jenis Tanah Vertisol, Inceptisol Dan Andisol

Journal article

Dimensionality Analysis of Magnetotelluric Data Crossing the Sumatran Fault System at Aceh Segment

Journal article

Karakt£risasi Senyawa Aktif Anti Bakteri Minyak Atsiri Bunga Cengkeh (Syzygium Arimaticum)

Journal article

Antioxidant Activity of N-hexane Extract of Nutmeg Plants From South Aceh Province

Read more articles