Baru saja dipublikasikan
Journal article

Front Pages

Journal article

Feed Conversion and Seed Survival of Nile Tilapia (Oreochromis. Niloticus Linnaeus, 1758) Feed by Recombinant Growth Hormone Through Immersion and Feed

Journal article

Sizing and Scarring of Whale Shark (Rhincodon Typus Smith, 1828) in the Cenderawasih Bay National Park

Journal article

Feed Conversion and Seed Survival of Nile Tilapia (Oreochromis. Niloticus Linnaeus, 1758) Feed by Recombinant Growth Hormone Through Immersion and Feed

Journal article

Sizing and Scarring of Whale Shark (Rhincodon Typus Smith, 1828) in the Cenderawasih Bay National Park

Paling banyak dilihat
Journal article

KEBIASAAN MAKANAN IKAN TILAN (Mastacembelus Erythrotaenia, Bleeker 1850) DI SUNGAI MUSI [Food Habit of Fire Eel, Mastacembelus Erythrotaenia Bleeker 1850 in Musi River]

Tilan, Mastacembelus erythrotaenia is one of an economic fish that the population has been degradated. The research was aiming to describe the information of food habits of tilan fish in Musi River. The sampling was conducted every month from December 2007 to Juli 2008 and samples were collected by using pancing (hook and line), sondong (electro fishing), Jaring kantong (trammel net), rawai (long line) and belat (seine net). A total of 1001 fish was caught. The stomach content was analyzed based on index of preponderance method. Based on this analysis, the main food was Sesarma eydouxi. According to this research, Mastacembelus erythrotaenia was the selective crustacivorous predator, that main food was similar in every month and station. This information be used for management resources of Mastacembelus erythrotaenia, aquaculture, and conservation.
Journal article

Ikan Air Tawar Endemik Sumatra Yang Terancam Punah (the Freshwater Fishes of Endemic of Sumatra That Threatened Species)

Dari 589 jenis ikan air tawar yang tercatat sebagai penghuni ekosistem perairan tawar Sumatra, 58 jenis diantaranya (9,8%) termasuk kelompok ikan endemik Sumatra. Suku yang mempunyai endemisitas tertinggi adalah Belontiidae (42,3%). Berdasarkan daftar jenis biota air yang tercantum dalam “The 2000 IUCN Redlist of Threatened Species (IUCN 2001), dapat diidentifikasi 14 jenis ikan air tawar Sumatra yang terancam punah (threatened species) dan 7 jenis diantaranya (50%) adalah jenis-jenis ikan endemik Sumatra yaitu Betta burdigala, B. chloropharynx (hanya terdapat di P. Bangka), B. miniopinna dan B. spilotogena (hanya terdapat di P. Bintan), Neolissochilus thienemanni (hanya terdapat di D. Toba), Poropuntius tawarensis dan Rasbora tawarensis (hanya terdapat di D. Laut Tawar). Distribusi geografis ikan endemik Sumatra dianalisis dengan provinsi sebagai unit analisis. Provinsi yang memiliki endemitas tinggi adalah Sumatra Barat (24,1 %), Jambi (20,7 %), Kepulauan Riau (17.3 %), Nanggro Aceh Darussalam (17.3 %), dan Riau (15,5%). Endemisitas yang tinggi tersebut sekarang terancam oleh berbagai aktifitas pembangunan. Diidentifikasi pula faktor-faktor yang mengancam kelangsungan hidup ikan-ikan tersebut.
Disarankan Untuk Anda
Journal article

Optimalisasi Reproduksi Ikan Pelangi Kurumoi Melanotaenia Parva Allen, 1990 melalui Rasio Kelamin Induk dalam Pemijahan [Optimizing Of Reproduction Kurumoi Rainbowfish (Melanotaenia Parva Allen, 1990 Through Sex Ratio In Spawning]

Ikan pelangi kurumoi (Melanotaenia parva) merupakan ikan hias yang berasal dari perairan “Danau Kurumoi” di dae-rah Papua yang berpotensi sebagai komoditas ekspor ikan hias Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan rasio kelamin induk jantan dan betina terbaik bagi pemijahan ikan pelangi kurumoi yang optimal. Perlakuan dalam pe-nelitian ini adalah rasio kelamin induk jantan dan betina: (A) 1:1, (B) 2:1, (C) 3:1, dan (D) 4:1; masing-masing perlakuan dipijahkan sebanyak empat kali (ulangan waktu pemijahan). Penelitian ini dilakukan di ruang pembenihan Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Hias (BPPBIH) Depok pada bulan Mei-Juli 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemijahan ikan pelangi pada perlakuan (B) menghasilkan jumlah telur yang dipijahkan (ovulasi) tertinggi yaitu sebanyak 167±30 butir. Hasil ini berbeda secara signifikan dengan perlakuan (D) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 85±36 butir namun tidak berbeda dengan perlakuan (A) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 132±29 butir serta perlakuan (C) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 127±15 butir. Demikian pula halnya dengan derajat pembuahan telur di mana pada perlakuan (B) didapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 99,69±0,63% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya (P>0,05). Derajat penetasan tertinggi diperoleh pada perlakuan (D) yaitu sebesar 96,49±49% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Sintasan larva umur satu bulan tertinggi diperoleh dari hasil pemijahan menggunakan rasio kelamin induk (B) yaitu sebesar 34,21% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Pemijahan ikan pelangi kurumoi dengan rasio kelamin induk (B) memberikan hasil yang terbaik pada penelitian ini.
Baca artikel lainnya