Metrik

  • visibility 397 kali dilihat
  • get_app 1008 downloads
description Journal article public An1mage Jurnal Studi Kultural

Ketidaksetaraan Gender dalam Dalihan Na Tolu

Mangihut Siregar
Diterbitkan 2018

Abstrak

Suku Batak dikenal sebagai masyarakat yang sangat taat pada adat istiadat. Orang Batak tidak merasa tersinggung apabila disebut orang yang kurang taat beragama, namun sangat marah apabila disebut orang yang tidak taat akan adat istiadatnya. Adat menjadi hal yang sangat pokok dalam kehidupan keseharian Orang Batak. Pelaksanaan adat istiadat diatur dalam sistem dalihan na tolu. Setiap individu Orang Batak akan masuk dalam sistem dalihan na tolu. Selain berfungsi dalam upacara adat, sistem dalihan na tolu juga mengatur hubungan pergaulan masyarakat sehari-hari. Praktik dalihan na tolu tidak mengenal kasta (golongan atas dan bawah) karena masing-masing hula-hula, dongan tubu dan boru akan dimiliki setiap Orang Batak secara bergantian. Dengan demikian kesetaraan kedudukan Orang Batak akan terlihat dalam sistem dalihan na tolu. Namun demikian ditinjau dari sudut gender, sistem dalihan na tolu mengalami ketidakadilan gender. Gender berbeda dengan seks. Seks merupakan biologis antara laki-laki dan perempuan dan bersifat alamiah. Gender bukan bersifat alamiah tetapi hasil pengaturan perilaku atau hasil konstruksi sosial. Perempuan dilihat dari kacamata gender sebagai mahluk yang lemah dan perlu mendapat perlindungan. Laki-laki dipandang sebagai mahluk yang kuat sehingga perlu melakukan perlindungan terhadap perempuan. Konstruksi ini dibentuk oleh ideologi patriarki. Para laki-laki Orang Batak sangat nyaman akan ideologi patriarki yang terdapat dalam dalihan na tolu sehingga mereka tetap melestarikannya.

Full text

 

Metrik

  • visibility 397 kali dilihat
  • get_app 1008 downloads