Tax In Indonesia In Islamic Perspective

Dina Eka Shofiana
Journal article Entrepreneur • 2011 Indonesia

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 11 pages)

Abstrak

Berdasarkan urutan besarnya pendapatan, pajak di Indonesia ada tiga obyek utama, yaitu penghasilan (UU No.38 tahun 2008), Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Penjualan atas Barang Mewah (UU No.18 Tahun 2000) dan Bumi dan Bangunan (UU No. 20 dari 2000). Jika kita melihat lebih dalam, dan subjek, subjek pajak penghasilan jelas tidak membedakan antara Muslim dan non-Muslim, sehingga dalam undang-undang ini, umat Islam bisa dikenakan pajak dua kali (taxs ganda) untuk amal. Dari obyek pajak atas menunjukkan bahwa hampir semua jenis kemampuan ekonomi tambahan (resepsi) badan orang atau bisnis, tunduk pada bagian pajak yang juga merupakan obyek amal, seperti pendapatan yang akan dikenakan zakat profesi, pendapatan dari operasi yang dikenakan zakat perdagangan, dan lainnya. Pajak penghasilan juga tidak mempertanyakan sumber halal dan haram atau pendapatan, seperti bunga bank, yang telah dilarang oleh panel ulama difatwakan atau penghasilan dan USAha yang jelas melanggar hukum, seperti minuman keras, perjudian, dan sebagainya. Ini jelas bertentangan dengan Syariah Islam. Selain itu, hadiah juga digunakan sebagai objek pajak penghasilan, sedangkan dalam Islam, hadiah itu direkomendasikan oleh Nabi, Untuk membangkitkan rasa belas kasih.. Dengan kata lain, ada banyak obyek pajak ini tidak sesuai dengan syariah Islam, yang perlu diperiksa.

Metrik

  • 85 kali dilihat
  • 46 kali diunduh

Jurnal

Entrepreneur

Jurnal Entreprenuer diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Administrasi Unipdu Jombang sebagai hasil pene... tampilkan semua