Analisis Yuridis Penjatuhan Pidana Oleh Hakim Dalam Tindak Pidana Korupsi(putusan Nomor : 2031 K/pid.sus/2011)

Adrian Pah, Gress Gustia • Echwan Iriyanto • Laely Wulandari
Journal article e-Journal Lentera Hukum • 2014

Unduh teks lengkap
(Bahasa Indonesia, 9 pages)

Abstrak

Korupsi adalah penyelewengan tugas dan penggelapan uang negara atau Perusahaan untuk keuntungan pribadi maupun orang lain. Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari satu orang. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan dan biasa terjadi pada badan publik atau masyarakat umum. Penyebab adanya tindakan korupsi berasal dari aspek individu, organisasi, dan peraturan yang ada.Dampak dari tindakan korupsi dapat merusak perekonomian negara, demokrasi dan kesejahteraan umum. Lahirnya Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan adanya ancaman pidana minimum khusus, pidana denda yang lebih tinggi, dan ancaman pidana mati yang merupakan pemberatan pidana, pemberian ancaman pidana minimal khusus dalam UUPTPK adalah untuk memberikan efek jera kepada koruptor dan mencegah potensi terjadinya korupsi, oleh karena itu perimbangan Hakim dalam penjatuhkan putusan seyogyannya berpedoman dari ketentuan yang sudah di atur di dalam UUPTPK yang sudah memberikan ketentuan acaman pidana minimal khusus dalam pelaku tindak pidana korupsi.

Metrik

  • 313 kali dilihat
  • 1426 kali diunduh

Jurnal

e-Journal Lentera Hukum

e-Journal Lentera Hukum (eJLH) menerbitkan artikel ilmiah yang ditulis oleh pakar, praktisi maupu... tampilkan semua