Perempuan Bantul: yang Berbicara yang Berorganisasi

  • Wulani Sriyuliani

Abstrak

Perempuan miskin pedesaan selalu menjadi persoalan pembangunan yang penting untuk diselesaikan. Kemiskinan seringkali mendorong perempuan untuk turut bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sayangnya tidak sejalan dengan peran perempuan yang semakin tinggi/bertambah, mereka masih dipandang sebelah mata dan sekaligus mengalami diskriminasi dan subordinasi baik oleh lingkungan sosial, politik bahkan dalam relasinya lingkup domestik (rumah tangga). Melalui pengorganisasian perempuan, kelompok ini diharapkan dapat mengekspresikan dirinya secara individu dan sosial sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan. Peka terhadap isu pengorganisasian perempuan tersebut, Pusat Analisis Sosial, Yayasan AKATIGA bekerjasama dengan SPB mengadakan diskusi yang berjudul ‘Pembelajaran menjadi Fasilitator yang Bermakna dalam Pengorganisasian Perempuan'. Selain oleh anggota SPB, diskusi juga dihadiri oleh, Serikat Perempuan Independen (SPI) Kabupaten Kulonprogo, dan Koperasi Wanita SETARA Klaten. Peserta yang hadir dalam diskusi berjumlah 30 orang, termasuk moderator, narasumber dan perwakilan AKATIGA. Kehadiran peserta diskusi didominasi perempuan, mayoritas merupakan fasilitator atau kader organisasi. Narasumber dalam diskusi adalah Titik Hartini (Direktur Pemulihan Keberdayaan Masyarakat (PKM) dan mantan Sekjen Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK)).

Metrics

  • 128 kali dilihat
  • 99 kali diunduh

Penerbit

AKATIGA

AKATIGA adalah lembaga penelitian di Bandung. Berdiri pada tahun 1991, AKATIGA menyelenggarakan p... lihat semua