Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tebu Pada Tipologi Lahan Bertekstur Berat, Tadah Hujan, Dan Drainase Lancar

Prima Diarini Riajaya • Fitriningdyah Tri Kadarwati
Journal article Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri • Oktober 2016

Abstrak

Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan yang strategis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gula. Saat ini berbagai tipe kemasakan varietas tebu dapat ditemui pada tipologi lahan yang sama sehingga potensi varietas akan sulit dicapai pada tipologi lahan yang tidak sesuai. Untuk itu kesesuaian varietas tebu dengan tipe kemasakan yang berbeda perlu diuji dengan tipologi lahan. Penelitian dilaksanakan di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan dengan tipologi lahan tekstur tanah berat (B), lahan tadah hujan (H), dan drainase lancar (L) atau BHL mulai Oktober 2014 sampai September 2015. Penelitian lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang 5 kali dengan 8 perlakuan varietas dengan tipe kemasakan yang berbeda yaitu PS 881 (Awal); Cenning, PSJK 922, dan PS 882 (Awal Tengah); KK, VMC 76-16, PSDK 923, dan BL (Tengah Lambat). Varietas tebu yang ditanam menggunakan benih bagal mata 2–3 dengan PKP 135 cm. Kesesuaian tipologi lahan BHL dengan tipe kemasakan varietas tebu menunjukkan bahwa varietas tebu tipe kemasakan awal bila ditanam tepat waktu menghasilkan produktivitas sama dengan varietas masak tengah lambat dengan tingkat produktivitas (92,98–109,28 ton/ha). Varietas tebu dengan tipe ke masakan awal sampai awal tengah menghasilkan produktivitas tebu 93–96 ton/ha menggunakan varietas PS 881, Cenning, dan PSJK 922, dan varietas tengah lambat menghasilkan produktivitas tebu 92-109 ton/ha menggunakan varietas VMC-7616, PSDK 923, dan BL. Produksi hablur tertinggi varietas masak awal 8,46 ton/ha (PS 881), varietas awal tengah 8,66 ton/ha (PSJK 922), varietas tengah lambat 9,40 ton/ha (PSDK 923). Panen tebu dilakukan berdasarkan tingkat kemasakan yang optimal, di lokasi penelitian (wilayah Bangkalan, Madura) varietas tipe kemasakan awal sampai awal tengah mencapai tingkat kemasakan optimal pada saat tanaman mencapai umur 9 bulan dan 9,5 bulan setelah tanam pada tipe kemasakan tengah lambat. Dengan demikian pada tipologi lahan BHL direkomendasikan penggunaan varietas tebu dengan tipe kemasakan awal sampai tengah lambat. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan penataan varietas tebu. Pemilihan varietas yang berproduksi tinggi dan tahan kepras serta sesuai dengan lingkungan setempat sangat dianjurkan. Sugar cane is one of the strategic plantation crops associated with the fulfillment of sugar. At present various types of ripening sugarcane varieties can be found on the same land typology, so the potential productivity of a variety would be difficult to achieve on a typology that is not appropriate. The suitability of sugarcane varieties with different maturity types need to be checked with appropriate land typology. The research was conducted in East Gili, Kamal, Bangkalan on the land typology of heavy soil texture (B), the rainfed (H), and good drainage (L) or BHL started in October 2014 to September 2015. The field research was designed using a Randomized Block Design (RAK) with five replications with 8 varieties treatments namely PS 881 (early maturity), Cenning, PSJK 922 and PS 882 (middle early maturity); KK, VMC 76-16, PSDK 923 and BL (middle late maturity). Sugarcane stalks with 2-3 buds of each variety were planted per plot at 135 cm row spacing. Suitability of sugarcane varieties with different maturity types with land tipology showed that early maturity sugarcane varieties planted at the right time produced the similar productivity with late maturity varieties on lands with BHL tipology with a ranges of productivity 92.98 to 109.28 tons/ha. Sugarcane varieties with early maturity to mid early maturity of sugarcane produced 93-96 tons/ha using PS 881, Cenning, and PSJK 922, and varieties with mid late to late maturity produced 92-109 tonnes/ha using VMC-7616, PSDK 923, and BL. High sugar yields were produced by early variety of 8.46 tonnes/ha (PS 881), mid early variety of 8.66 tonnes/ha (PSJK 922), mid late variety of 9,40 tonnes/ha (PSDK 923). Cane harvesting was done based on the optimum maturity, in the study site (Bangkalan, Madura) cane varieties with early to middle early maturty reached the optimal maturity at the crop age of 9 months and 9.5 months in middle late maturity. Thus the land tipology of BHL recommended the use of sugarcane varieties with early to mid late maturity. This information can be used as a basis for the implementation of the planting management of sugarcane varieties. Selection of high yielding varieties and ratooning ability and appropriate to the local environment is highly recommended.

Metrics

  • 60 kali dilihat
  • 19 kali diunduh

Jurnal

Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri

Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri adalah jurnal ilmiah nasional yang dikelola o... tampilkan semua