Peranan Ternak dalam Menopang Ekonomi Rumah Tangga di Perdesaan pada Wilayah Agroekosistem Perkebunan

  • Bambang Winarso

Abstrak

Data perkembangan luas areal perkebunan selama tahun 2000–2012 menunjukkan perkembangan yang terus meningkat baik untuk tanaman sawit, kakao, karet, maupun tebu. Selama kurun waktu tersebut luas perkebunan karet meningkat dari 3,37 juta ha (2000) meningkat menjadi 3,50 juta ha (2012). Luas perkebunan sawit selama periode yang sama meningkat tajam dari 7,00 juta ha (2000) meningkat 9,57 juta ha (2015). Perkembangan luas kebun kakao juga mengalami perkembangan pesat dari 0,75 juta ha (2000) meningkat menjadi 1,7 juta ha (2012), sementara perkembangan luas perkebunan tebu justru mengalami penurunan yang sangat tajam di mana luas areal kebun tebu pada tahun 2000 seluas 1,69 juta ha turun menjadi 0,45 juta ha (2012). Data perkembangan luas areal perkebunan tersebut setidaknya merupakan petunjuk bahwa di satu sisi ada beberapa komoditas perkebunan yang memiliki peluang besar untuk dijadikan lahan pengembangan ternak melalui pola integrasi, tetapi di sisi lain justru sebaliknya. Salah satu peluang besar untuk pengembangan ternak adalah memanfaatkan lahan perkebunan sebagai basis kegiatan usaha. Areal perkebunan yang saat ini banyak dijadikan sebagai wilayah pengembangan ternak adalah wilayah pengembangan komoditas kelapa sawit dengan ternak sapi potong sebagai ternak yang dikembangkan. Hasil kajian yang dilakukan oleh beberapa ahli menunjukkan bahwa pemanfaatan hijauan yang ada di sekitar pohon sawit maupun limbah tanaman, bahkan sampai dengan limbah industri sawit potensial sebagai bahan pakan ternak sapi potong. Integrasi tanaman-ternak merupakan suatu sistem pertanian yang dicirikan oleh keterkaitan yang erat antara komponen tanaman dan ternak dalam suatu usaha tani atau dalam suatu wilayah. Keterkaitan tersebut merupakan suatu faktor pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat tani dan pertumbuhan ekonomi wilayah dengan cara yang berkelanjutan (Pasandaran et al., 2005). Integrasi antara tanaman dan ternak dapat diaplikasikan di wilayah agroekosistem komoditas tanaman pangan (padi dan palawija) dan wilayah agroekosistem tanaman perkebunan. Sistem usaha tani tanaman ternak pada dasarnya merupakan respon petani terhadap faktor risiko yang harus dihadapi, mengingat berbagai ketidakpastian dalam berusaha tani (Soedjana, 2007 dalam Prawiradiputra, 2009).

Metrics

  • 34 kali dilihat
  • 13 kali diunduh

Penerbit

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) adalah salah satu lembaga y... lihat semua