Penerapan Teknologi Usaha Tani Palawija pada Agroekosistem Lahan Kering

Amar K. Zakaria

Abstrak

Untuk meningkatkan produktivitas komoditas pertanian diperlukan teknologi yang selalu berkembang. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas memegang peranan penting untuk berkembangnya usaha tani. Pertanian yang maju adalah pertanian yang dinamis dan fleksibel serta meningkat produktivitasnya. Mosher (1966) mengemukakan bahwa untuk berhasilnya pembangunan pertanian diperlukan adanya kemajuan dalam bidang teknologi pertanian. Keberhasilan dan pembangunan dalam bidang apapun tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi. Penerapan teknologi pertanian yang sesuai anjuran merupakan jalan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Dalam praktiknya kesediaan petani untuk menggunakan teknologi baru tersebut dipengaruhi oleh keberanian untuk menanggung risiko. Menurut Sudaryanto et al. (2001) unsur teknologi merupakan manifestasi dari pengelolaan tanaman terpadu yang meliputi (1) pola tanam (cropping pattern), (2) pemilihan komoditas atau varietas, (3) persiapan lahan, (4) konservasi dan rehabilitasi lahan, (5) jarak tanam, (6) pengelolaan nutrisi tanaman, (7) pengendalian OPT, (8) pengelolaan air, dan (9) penanganan panen dan pascapanen. Pada hakekatnya, pendekatan keterpaduan dengan menekankan keseimbangan antara fungsi ekonomi dengan sumber daya yang terkait tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem (Bouman, 2003). Petani memainkan peranan inti di dalam pembangunan pertanian. Di dalam melaksanakan usaha taninya petani dituntut untuk mengambil keputusan dalam hal menentukan dan memilih alternatif yang ada, misalnya bagaimana lahan usaha taninya harus dikelola sesuai dengan potensi wilayahnya untuk memperoleh hasil usaha tani yang memuaskan. Oleh karena itu, petanilah yang harus mempelajari dan menerapkan teknologi baru untuk membuat usaha taninya lebih berhasil. Dalam hal ini, penggunaan teknologi baru yang sesuai anjuran merupakan unsur dinamis yang dapat membawa kemajuan usaha tani (Krisnamurthi, 2006). Kurang berhasilnya proses penerimaan dan pengenalan informasi teknologi baru di tingkat usaha tani pada dasarnya sebagai akibat dari informasi tentang teknologi kepada pengguna kurang tepat dalam diseminasinya (Musyafak dan Ibrahim, 2005), dalam proses komunikasi oleh penyuluh pertanian belum optimal menurut aturan semestinya (Saridewi dan Siregar, 2010), dan Adam (2009) menjelaskan tentang kondisi petani penerima teknologi belum dapat menularkan kepada petani lainnya.

Metrics

  • 156 kali dilihat
  • 81 kali diunduh

Penerbit

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) adalah salah satu lembaga y... tampilkan semua