Penerapan Teknologi dan Profitabilitas Usaha Tani pada Desa Lahan Kering Berbasis Sayuran

Saktyanu K. Dermoredjo
Book chapter Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian • 2015 Indonesia

Abstrak

Sayuran merupakan salah satu komoditas yang memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi pembangunan ekonomi. Khusus dalam lingkup pertanian secara sempit (tanaman bahan makanan, perkebunan, dan peternakan), nilai Produk Domestik Bruto (PDB) hortikultura sayuran tahun 2012 mencapai Rp73,78 triliun atau mencapai 8,38% dari nilai PDB pertanian sebesar Rp880,17 triliun, dengan pertumbuhan di tahun 2012 sebesar 2,90% (Pusdatin, 2013). Kondisi ini menunjukkan bahwa sayuran masih merupakan komoditas penting untuk pertanian Indonesia walaupun dalam perkembangannya memiliki berbagai macam tantangan risiko yang dihadapi. Budi daya sayuran seperti komoditas kentang dan kubis pada periode atau musim tertentu dipengaruhi oleh risiko produksi musim sebelumnya, di mana perilaku ekonomi rumah tangga petani sayuran tersebut responsif terhadap risiko produksi, risiko harga produk, ekspektasi produksi, ekspektasi harga, dan upah nonfarm (Fariyanti et al., 2007). Keterbatasan air juga menjadi kendala di wilayah tertentu. Pada umumnya sayuran tumbuh di lahan kering di mana lahan tersebut menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan. Lahan ini memiliki kondisi agroekosistem yang beragam, umumnya berlereng dengan kondisi kemantapan lahan yang labil (peka terhadap erosi) terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah. Untuk usaha pertanian lahan kering dapat dibagi dalam tiga jenis penggunaan lahan, yaitu lahan kering berbasis palawija (tegalan), lahan kering berbasis sayuran (dataran tinggi), dan pekarangan (Setiawan, 2008). Teknologi budi daya lahan kering relatif bervariasi di mana variasi cukup tinggi antardaerah apalagi antarnegara. Variasi antarnegara ini didasarkan pada (a) curah hujan dengan 0–600 mm CH per tahun; (b) panjang musim hujan dan suhu, yaitu kurang dari tiga bulan dengan kecukupan kelembaban untuk tumbuh pertanaman dengan rata-rata suhu minimal 27 oC; (c) membandingkan antara curah hujan tahunan dengan besarnya nilai potensial evapotranspirasi di mana daerah tersebut memiliki curah hujan kurang dari 40% dari potensi evapotranspirasi; (d) daerah yang lebih didukung oleh rerumputan dibandingkan dengan tanaman sereal; dan (e) sistem pertanian yang lebih sensitif terhadap kekeringan dibandingkan dengan yang lain (IIRR, 2002).

Metrics

  • 208 kali dilihat
  • 127 kali diunduh

Penerbit

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) adalah salah satu lembaga y... tampilkan semua