Ibn Khaldun dan Ilmu-ilmu Sosial: Tentang `Ashabiyah, Negara, “Sakralisasi” Ilmu

Ihsan Ali-Fauzi
Kertas Kerja PUSAD Paramadina • Juni 2009

Abstrak

Diskusi tentang warisan pemikiran Islam seringkali bercorak retoris (apakah warisan itu sudah diakui dunia atau belum?), triumfalis-apologetis (lihat, bukankah Islam yang menawarkan lebih dulu, sejak sekian abad lalu?), dan eksklusif-defensif (karena sudah ada dalam tradisi sendiri, apa perlunya kita belajar dari model atau kelompok lain?). Asumsinya, saya duga: manusia Islam itu beda dari manusia lainnya – unik, tak terbandingkan, tapi selamanya lebih baik. Seakan kita lupa bahwa manusia itu beda persis karena mereka itu sama, tentu saja pada satu atau lain segi. Seperti tak ada warna-warni bahkan di dalam manusia Islam itu sendiri. Kita harus segera hijrah dari model diskusi yang tidak produktif itu, yang tumbuh dari kekerdilan dan pola-pikir “katak dalam tempurung”. Mari kita cari lebih banyak irisan, titik temu dan titik pisah, untuk saling berbagi atau menerima dan mengelola perbedaan yang niscaya. Jika memang Islam itu rahmat bagi semesta alam, mengapa pula kita takut berenang bersama orang-orang lain di semesta itu? Dengan niatan itu, saya ingin membawa masuk Ibn Khaldun (1332-1406) ke dalam debat kontemporer tentang beberapa isu dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi-politik (yang bicara terutama tentang basis sosial dari politik). Kecuali jika Ibn Khaldun sendiri mengemukakan sisi-sisi keislamannya (yang wajib kita perhitungkan, atas nama otentisitas dan obyektivitas), mari kita coba lepaskan baju Islam darinya. Karena, jangan-jangan baju itu terlalu sempit untuk menampung gairah dan sumbangan kesarjanaannya. Atau, jangan-jangan jubah Islam yang dikenakan kebanyakan kaum Muslim kepadanya selama ini adalah jubah yang sudah ketinggalan zaman dan lapuk.

Metrics

  • 173 kali dilihat
  • 79 kali diunduh

Penerbit

PUSAD Paramadina

Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Universitas Paramadina (PUSAD Paramadina) adalah lembaga otonom ... tampilkan semua