Recently Published
Journal article

Analisis Sebaran Tipe dan Performa Mutu Fisik Kakao pada Tiga Rentang Elevasi

Evaluation of Clonal Uniformity in Six Superior Cacao Clones Based on SSR Marker

Genetic Diversity Analysis of 28 Cacao Collections (Theobroma Cacao L.) Based on SSR Markers

Journal article

Genetic Variability of 11 Local Cacao Clones Derived From West Sumatra Using SSR Markers

Journal article

Keragaman Genetik Klon Kakao Lokal Sulawesi Tenggara Berdasarkan Marka SSR dan Karakter Morfologi

Journal article

Application of Cytokinins to Enhance Tea Plant Growth in the Lowlands

Journal article

Genetic Variability of 11 Local Cacao Clones Derived From West Sumatra Using SSR Markers

Journal article

Keragaman Genetik Klon Kakao Lokal Sulawesi Tenggara Berdasarkan Marka SSR dan Karakter Morfologi

Journal article

Application of Cytokinins to Enhance Tea Plant Growth in the Lowlands

Most Viewed
Journal article

Karakterisasi Sifat Fisik dan Kimia Beberapa Jenis Biji Kakao Lindak di Lampung

Biji kakao dibedakan menjadi jenis kakao mulia (fine cocoa) dan jenis kakao lindak (bulk cocoa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia biji kakao lindak di Lampung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2009 di Laboratorium Uji BPTP Lampung dan laboratorium THP Politeknik Negeri Lampung.Digunakan 4 jenis buah kakao lindak yakni buah kakao dengan (1) warna kulit merah dan tekstur kulit kasar; (2) warna kulit merah dan tekstur kulit halus; (3) warna kulit hijau dan tekstur kulit kasar; dan (4) warna kulit hijau dan tekstur kulit halus. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen, jumlah biji per buah, berat 100 biji kering, kriteria umum, dan kriteria khusus. Data dianalisis dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah kakao dengan warna kulit hijau dan tekstur kulit kasar, menghasilkan rendemen, jumlah biji per buah, dan berat 100 biji tertinggi dibandingkan dengan jenis kakao lindak lainnya. Berdasarkan kriteria khusus, biji kakao tersebut sesuai dengan SNI No. 01-2323-2002, dan masuk dalam kelas mutu II AA. Buah kakao dengan warna kulit merah dan tekstur kulit halus menghasilkan kandungan protein dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kakao lindak lainnnya.
Journal article

Inovasi Teknologi Perbaikan Bahan Tanam Kakao Di Indonesia

Tanaman kakao merupakan komoditas utama sub sektor perkebunan di Indonesia. Komoditas ini merupakan sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, sekaligus juga bermanfaat untuk konservasi tanah dan air. Sebagian besar tanaman kakao diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat yang mencapai 93% pada tahun 2010 dengan tingkat produktivitas 750 kg biji kering/ha/tahun. Rendahnya produktivitas kakao di Indonesia disebabkan oleh rendahnya kualitas bahan tanaman, serangan hama dan penyakit, dan penerapan teknologi budidaya yang tidak standar. Varietas dan klon kakao unggul yang tersedia saat ini meliputi varietas mulia dan lindak. Varietas-varietas dan klon unggul tersebut memiliki potensi produksi cukup tinggi, berkisar 1,5-2 ton/ha/tahun, tetapi masih rentan terhadap cekaman biotik, yaitu hama dan penyakit. Untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil kakao di Indonesia, masih diperlukan varietas unggul yang tahan terhadap cekaman biotik tersebut baik yang berupa hibrida F1 maupun klonal. Perakitan varietas dan klon kakao dapat dilakukan melalui pendekatan konvensional dan inkonvensional. Secara konvensional perakitan bahan tanam kakao dapat dilakukan dengan melakukan persilangan untuk menghasilkan benih kakao hibrida secara biklonal maupun poliklonal. Pendekatan inkonvesional dengan memanfaatkan teknik molekuler dapat mempersingkat daur seleksi tanaman kakao.Kata Kunci: Kakao, produktivitas, perbaikan klon, hibridaCacao is a main crops commodity in Indonesia. It is one of the source of national income, providing employment opportunities, also as land and water conservation. Most cacao cultivation are in small holders, which reached 93% in 2010 with productivity rate of 750 kg of dried beans/ha/year. The low productivity is due to low quality of plant materials, pest and disease attack, and unstandarized cultivation technology. Available superior varieties and cacao clones which commonly in use today are fine cocoa and bulk cocoa. Both have high production potentials, ranging from 1.5-2 tonnes/ha/year, but susceptive to pest and disease attack. To increase productivity and yield quality of cacao requires superior variety that is resistant to biotic stress, either F1 hybrid or clonal. The assembling of cacao varieties and clones can be done through conventional and inconventional methods. Inconventional approach using molecular technology can shorten the selection cycle of cacao plants.
Suggested For You
Journal article

Pendugaan Daya Gabung dan Heritabilitas Beberapa Karakter Agronomis pada Populasi Generasi F1 Kakao (Theobroma Cacao L.)

Informasi mengenai parameter genetik diperlukan sebagai dasar penentuan tetua dalam perakitan varietas hibrida. Penelitian ini bertujuan mengetahui daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) tetua dari 10 populasi F1 kakao hasil persilangan dialel 5 x 5 tanpa selfing dan tanpa resiprok. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP.) Sumber Asin, Malang, Jawa Timur dari bulan April sampai Oktober 2013. Tetua yang digunakan adalah DR1 (kakao edel) dan ICCRI 03, TSH 858, ICS 13, dan Sca 6 (kakao lindak). Karakter yang diamati adalah lingkar batang, tinggi jorket, persentase tanaman berbunga, dan persentase tanaman berbuah. Data karakter tersebut dianalisis ragamnya menggunakan metode Griffing 4. Hasil penelitian menunjukkan klon TSH 858 memiliki efek DGU paling tinggi untuk karakter lingkar batang dan persentase tanaman berbunga, sedangkan klon Sca 6 untuk tinggi jorket. Kedua klon tersebut berpotensi untuk dijadikan tetua persilangan dalam pembentukan varietas sintetis. Nilai DGK paling tinggi ditunjukkan oleh kombinasi tetua DR 1 x Sca 6 untuk karakter lingkar batang, persentase tanaman berbunga, dan persentase tanaman berbuah, sedangkan kombinasi TSH 858 x DR 1 memperlihatkan nilai paling tinggi untuk karakter tinggi jorket. Kedua kombinasi tetua tersebut potensial dijadikan alternatif dalam perakitan varietas hibrida.Kata kunci: Kakao mulia, kakao lindak, Daya Gabung Khusus, Daya Gabung Umum, Griffing 4, heritabilitasKnowledge about genetic parameters is important for plant breeders as a basis for determining potential parent in hybrid breeding programs. The objectives of this study was to evaluate general combining ability (GCA) and specific combining ability (SCA) in F1 population of cocoa derived from diallel crossing of 5 x 5 without selfing and reciprocal. The experiment was conducted at the Sumber Asin experimental station, Malang, East Java, from April to October 2013. The parental clones used are ICCRI 03, TSH 858, Sca 6, ICS 13 (bulk cacao) dan DR 1 (fine cacao). Observations on agronomic characters including trunk girth, jorquette height, percent of flowering, and percent of fruiting were carried out on individual plants. Variance analysis was perfomed by Griffing Method type 4. The result showed that TSH 858 clone has the highest GCA effect on trunk girth and percent of flowering (TSH 858), while Sca 6 clone was significant only for jorquette height. Both of those clones would be potential as parent in assembling new variety, particularly to gain the large trunk girth and high jorquette. On the other hand, the highest SCA value indicated by the combination of DR 1 x Sca 6 for trunk girth, percent of flowering and percent of fruiting, whereas the combination of TSH 858 x DR 1 showed the highest value for jorquette height. Both of these parent combinations are prospective as an alternative in the assembly of new hybrid varieties.
Read more articles