Recently Published
Journal article

Peruntukan dan Sumber Harta Benda Gereja: Acuan pada Keuskupan Agung Medan

Journal article

Antara yang Sakral dan yang Profan pada Masa Kontak Sosial Dibatasi

Journal article

Mengenal dan Menghayati Keutamaan Keteguhan

Journal article

Peruntukan dan Sumber Harta Benda Gereja: Acuan pada Keuskupan Agung Medan

Journal article

Antara yang Sakral dan yang Profan pada Masa Kontak Sosial Dibatasi

Journal article

Mengenal dan Menghayati Keutamaan Keteguhan

Most Viewed
Journal article

Perkawinan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama

Kej 1-3 secara tidak langsung berbicara tentang lembaga perkawinan yang mengatur seksualitas. Lembaga perkawinan itu dipandang sebagai kontrak sipil oleh bangsa Israel (Tob 7:13-14) dengan peran mas kawin (Kej 34:12), tahap-tahap perkawinan (Ul 22:23-27; Kej 24:66-67) dan sifatnya endogen poligam poligini (Ul 7:3-6; 22:28-29). Para nabi menganalogikan lembaga perkawinan itu sebagai hubungan antara Allah dengan umat-Nya, bangsa Israel (Am 3:2; Hos 1; 2; Yer 2:1-3; 3:6- 13; Yeh 16; 23; Yes 54:4-8; 62:4-5). Para bijak Israel meneruskan analogi hubungan Allah-Israel dengan suami-isteri lewat Buku Kidung Agung yang mengangkat kesetaraan derajat laki-laki-perempuan danmemandang positif seksualitas sebagai bagian dari cinta sejati yang tidak dapat dibeli dan yang dibawa mati (Kid 1:13-17; 2:2,7,16; 7:10-11; 8:6-7). Cinta sejati laki-laki dan perempuan itu dijadikan analogi hubungan cinta Allah dengan umat pilihan-Nya (tafsir Yahudi) atau hubungan cinta Kristus dengan Gereja-Nya (tafsir Kristen). Buku Amsal dan Yesus bin Sirakh pun mengisahkan pujian yang mengangkat derajat seorang perempuan dan isteri (Ams 18:22; 19:14; Sir 26:15) serta madah pujian tentang keunggulan dan peran seorang isteri yang baik, berbudi, sopan dan cakap (Ams 31:10-31; Sir 26:1-3,13-18).
Journal article

Formalisme Kehidupan Beragama (Studi Kasus Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto)

Indonesia is a nation that seems religious. Place of worship was flooded with a lot ofpeople. Events and holy days of religius became a national event. In the other hand,some times the religious comprehention was halted at the places of worship that wasit. In the national and society life easily we can find people to do things that arecontrary to religious values. Human rights violations and corruption becomes difficultto eradicate. Moral degradation occurs from the level of family, community, societyand state officials. Within communities also repeatedly occurred certain group usereligion as an instrument of legitimacy to the acts of violence driven by a belief in theirown truth as the only truth, and the loss of a sense of respect for those who areconsidered different. Hence people are not so concerned with the behavior that iscontrary to what religion had been teaches, even assume it was not related to faith. Onthe other hand there are people who are aware of the true situation but are powerless,or do not have enough courage to reject it. This is the situation called formalism ofReligious Life. The cause of religious formalism that may arise from the internalreligious teachings, not only from the social structure of society but also of a culturethat is built in this community. The impact of these religious formalism can happen ona personal level, both the social structure and the culture of the society. Therefore, tocounter religious formalism is not enough left to religious leaders, but also thereshould be a joint motion to change the structure and culture of Indonesian society.
Journal article

Melihat dan Memberi Kesaksian dalam Yohanes 19:35

Journal article

Spiritualitas Ciptaan dan Hidup Ugahari

Suggested For You
Journal article

Mencintai Keluarga : Mengahayati Keadilan dan Belas Kasih

Tantangan, masalah, dan krisis dalam keluarga dengan bervariasi jenis sudah lama terjadi dan akan berlanjut. Aturan yang sudah dirumuskan dalam masyarakat dan dalam umat Gereja bisa membantu keluarga, tetapi cenderung menghukum keluarga yang bersalah, sehingga kurang membantu keluarga untuk memperbarui diri. Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) dan Anjuran Apostolik Paska Sinode Amoris Laetitia (Kegembiraan Cinta) mengajak umat agar setiap keluarga bergegas menghayati kekudusan sakramental perkawinan dalam kehidupan real, sehingga bergembira saling mencintai dengan keadilan dan belas kasih. Daya belas kasih ilahi yang hidup dalam keluarga sakramental akan bangun kalau keluarga memaafkan kekurangan dan meneguhkan kebaikan sehingga nyata dialami suka cita yang bisa mengatasi tantangan dan masalah. Dengan membaca dan mendengar Sabda Allah, keluarga mendapat inspirasi dari pengalaman keluarga beriman untuk menghayati keterlibatan Allah. Dengan berdoa bersama di keluarga dibantu media yang tersedia dewasa ini, serta kreatif menggunakan waktu secara bersama dalam kesibukan harian akan mendatangkan berkat baru untuk keluarga.
Journal article

Santo Paulus Sang Misionaris Agung

Journal article

The Evolution Of John Henry Newman's Spirituality

Journal article

Privilegi Paulinum

Journal article

Penyelesaian Masalah Model Animistis

Journal article

Santo Paulus Sang Misionaris Agung

Journal article

The Evolution Of John Henry Newman's Spirituality

Journal article

Privilegi Paulinum

Journal article

Penyelesaian Masalah Model Animistis

Read more articles