Recently Published
Most Viewed
Journal article

Penyebaran Dan Pembauran Inovasi Gizi Melalui Kegiatan Upgk Di Pedesaan Jawa Barat

Kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dapat dipandang sebagai upaya pembaruan perilaku (konsumsi) yang bertujuan agar lambat laun ibu-ibbu anak Balita atas bantuan para kader memiliki kemampuan mandiri dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan gizi anak Balita serta keluarga mereka. Upaya ini akan mempunyai arti positif jika pada sistem sosial masyarakat bertumbuh dan berkembang proses belajar dan pembaruan perilaku yang mengarah pada tindakan masing-masing keluarga untuk hidup lebih sehat dibanding keadaan sebelumnya. Pencapaian keadaan seperti ini tidak lepas dari fungsi dan peranan para pembina serta kader yang terlibat dalam kegiatan tersebut selaku sumber dan penyalur pesan-pesan inovasi gizi. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan program belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Dalam tulisan ini dikemukakan beberapa faktor penyebab ketidakberhasilan pencapaian sasaran program UPGK, khususnya di Kabupaten Subang, Jawa Barat, dimana identifikasi masalah dilakukan. kemampuan ekonomi keluarga dan tingkat pendidikan ibu anak Balita yang relatif rendah menjadi kendala utama yang mempengaruhi kadar pengetahuan gizi mereka. Para kader dihadapkan pada masalah kurang mengikuti penataran, cakupan wilayah kerja yang terlalu luas, ketidakjelasan keterikatan mereka dalam kegiatan, dan sistem imbalan, suasana yang kurang memadai di Posyandu sebagai tempat penyuluhan gizi bagi ibu-ibu peserta kegiatan UPGK, keterbatasan kesempatan, dana dan sarana untuk kegiatan kunjungan rumah. Petugas gizi selaku pembina kegiatan di Posyandu menghadapi keterbatasan sarana transportasi, disamping tugas rutin yang cukup banyak menyita perhatian dan waktu.
Journal article

Pemberian Makanan Tambahan Untuk Pemulihan (Pmtp) Anak Balita Gizi Buruk: Studi Kasus Di Lima Desa Di Lima Propinsi

Pemberian Makanan Tambahan untuk Pemulihan (PMTP) anak Balita gizi buruk merupakan salah satu kegiatan dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan sebagai intervensi langsung dalam menanggulangi masalah KKP pada anak Balita. Usaha yang memerlukan banyak biaya ini belum memberikan hasil seperti yang diharapkan terutama aspek pemulihannya, karena berbagai hambatan pengelolaan di lapangan. Telah dilakukan penelitian di lima desa pemenang lomba desa UPGK tahun 1982 di lima propinsi yaitu desa Subuk di Propinsi Bali, Cibogo di Jawa Barat, Wlahar di Jawa Tengah, Tlasih di Jawa Timur dan Koto Hilalang di Sumatera Barat dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan PMTP di desa-desa tersebut serta untuk mencari aspek-aspek positif yang mungkin dapat dilaksanakan di desa lain. Kriteria penerima PMTP berbeda untuk masing-masing desa, tetapi pada umumnya tidak hanya gizi buruk, tetapi juga gizi kurang dan gizi sedang, kecuali di Tlasih. Frekuensi penyelenggaraan PMTP di Subuk dan Tlasih adalah sekali seminggu, sementara di desa lain setiap hari. Macam makanan yang diberikan di desa Cibogo, Wlahar, Koto Hilalang dan Subuk adalah makanan lengkap yang terdiri dari nasi, lauk dan sayur-mayur, sementara itu di dua desa yang disebut belakangan disamping makan lengkap juga diberikan makanan kecil sementara di desa Tlasih PMTP diberikan dalam bentuk makanan kecil saja. Dari lima desa penelitian yang masih memmpunyai data BB anak Balita penerima PMTP serta catatan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan PMTP, yaitu desa Wlahar dan Koto Hilalang, didapat gambaran perbaikan keadaan gizi anak Balita penerima PMTP secara mengesankan, walaupun hal ini bukan karena PMTP saja, mungkin merupakan efek gabungan dari PMTP, pendidikan gizi dan faktor-faktor lain seperti pelayanan kesehatan dan program pembangunan lainnya. Namun diduga pendidikan gizi kepada ibu penerima PMTP merupakan faktor penting dalam mempengaruhi keberhasilan PMTP di daerah tersebut.
Suggested For You
Journal article

Efek Penggunaan Abu Gosok Dan Serbuk Bata Merah Pada Pembuatan Telur Asin Terhadap Kandungan Mikroba Dalam Telur (the Effect of Using the Ash and the Red Brick Powder in Making of the Salted Eggs to the Microbial Content of the Eggs)

Background: Salting is a way of preserving eggs with the dough / salt solution to boiling and boil for some time. As mixing the dough salt to soak the eggs, rub ash is commonly used in comparison with red brick powder. Purpose: determine the ability of red brick powder media in inhibiting bacteria than rub ash. Material and Method: Ten salted egg is made using a mixture of ash, salt and water in the ratio 4:2:2 ml, While ten more salted egg is made using a mixture of red brick powder, salt, and water in the ratio 4:2:2. Once the dough is well blended, each egg wrapped in dough evenly with a thickness of ± 2 mm. Then the eggs are stored in a plastic bucket in the open space. Microbial testing performed on total bacteria, and yeasts, as well as testing done to contain coliform, E. coli and Salmonella / Shigella on days 0, 5, 10, 15, and 20. Results: The total bacteria and yeasts in the two salted egg products decreased during salting, except on days -20, where an increase in total bacteria on salted egg with rub ash medium, but not on salted eggs with red brick powder medium. At the end of salting, the total number of bacteria of salted eggs for 4 x 102 and 0.9 x 102 colonies / gram, and total yeast and 0.45 x 102 8.7 x 102 colonies / gram. Conclusion: Salted eggs are made ​​using rub ash and red brick powder did not contain coliform bacteria, E. coli and Salmonella / Shigella, while the total number of bacteria and yeasts in the egg there is a difference.
Journal article

Dampak Intervensi Gizi Pada Ibu Hamil Terhadap Pertumbuhan Linier Batita

Journal article

Kandungan Asam Fitat Dan Tanin Dalam Kacang-kacangan Yang Dibuat Tempe

Journal article

Dampak Intervensi Gizi Pada Ibu Hamil Terhadap Pertumbuhan Linier Batita

Journal article

Kandungan Asam Fitat Dan Tanin Dalam Kacang-kacangan Yang Dibuat Tempe

Read more articles