Recently Published
Journal article

Kedudukan Tanah Druwe Pura Setelah Berlakunya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960

Implementasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit

Pandangan Dunia dan Karakteristik Kebudayaan Bali

Journal article

Tragedi dalam Buku Prosa Lirik Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki Karya Toeti Heraty

Journal article

Keterlibatan Desa Adat dalam Pengelolaan Objek Wisata Tukad Unda di Desa Paksebali Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung

Journal article

Etika dan Sistem Pendidikan Tradisional di Bali

Journal article

Interaksi Sistem Hukum Negara dan Adat dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Kota Denpasar

Journal article

Tragedi dalam Buku Prosa Lirik Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki Karya Toeti Heraty

Journal article

Keterlibatan Desa Adat dalam Pengelolaan Objek Wisata Tukad Unda di Desa Paksebali Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung

Journal article

Etika dan Sistem Pendidikan Tradisional di Bali

Journal article

Interaksi Sistem Hukum Negara dan Adat dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Kota Denpasar

Most Viewed
Journal article

Pentingnya Penerapan Etika Kepemimpinan Hindu di Bali Berlandaskan Asta Bratadengan Berbasis Tri Hita Karana

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Pengaruh gaya kepemimpinan akan berdampak pada kinerja bawahan. Dalam memotivasi kinerja dari Perusahaan atau organisasi sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin. Dalam budaya Bali kepemimpinan hindu dikenal dengan ajaran atau konsep Asta Brata. Asta Brata adalah contoh kepemimpinan hindu yang terdapat dalam Itihasa Ramayana. Asta Brata yaitu delapan tipe kepemimpinan yang merupakan delapan sifat kemahakuasaan Tuhan. Ajaran ini diberikan Sri Rama kepada Wibhisana sebagai raja Alengka Pura menggantikan kakaknya Rahwana. Dalam konsep Asta Brata ada delapan ajaran kepemimpinan hindu yang perlu diterapkan dan dijadikan sebagai pedoman dalam diri seorang pemimpin. Selain konsep Asta Brata, seorang pemimpin juga sangat membutuhkan dasar-dasar dalam menjalankan tugasnya. Dalam ajaran agama Hindu dasar-dasar yang dijadikan pedoman oleh seorang pemimpin adalah Konsep Tri Hita Karana. Dengan menerapkan konsep dari Tri Hita Karana, yaitu Parhyangan, Pawongan, Palemahan, maka seorang pemimpin akan dapat mempertanggungjawabkan (akontabilitas) kinerjanya serta dapat menciptakan suatu hubungan yang harmonis dan seimbang pada tiga komponen yang ada sehingga akan memberikan feed back positif kepada lingkungan masyarakat yang dipimpinnya.
Journal article

Disequilibrium Bhuana Agung dan Bhuana Alit

Tulisan ini ingin membahas tentang ketidakseimbangan (disequilibrium) harmonisasi tubuh dan alam yang merupakan dampak dari kebudayaan modern yang cenderung antroposentrik. Sebagaimana kebudayaan timur, khususnya Hindu memandang antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan. Budaya Bali cenderung melihat keseluruhan dan keutuhan sebagai sesuatu yang utama. Individu atau bhuana alit, tidak memiliki peranan sendiri yang asali, ia harus menyesuaikan diri dengan kembali pada kosmos besar – bhuana agung. Keduanya memiliki unsur-unsur pembentuk yang sama. Itulah sebab tubuh memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda alam. Bisa dikatakan, hubungan antara manusia dan alam tidak lagi sebatas etis, tetapi ontologis. Hilangnya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam menyebabkan terjadinya disekuilibrium – ketidakseimbangan. Kebudayaan antroposentrik yang berpusat pada “aku berpikir” memutus relasi ontologis antara manusia dan alam. Inilah yang menyebabkan aksi-aksi Perusakan terhadap lingkungan alam.  
Suggested For You
Journal article

Karya Seni Baligrafi: Perpaduan Aksara, Sastra, Rupa dan Jnana

Artikel ini membahas karya seni Baligrafi. Baligrafi merupakan karya seni aksara Bali yang indah dan unik mengandung aksara, sastra, rupa dan jnana. Karya Baligrafi layak untuk diteliti, terutama proses kreatif, bentuk, dan syarat-syarat pembuatannya. Studi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, pencarian data melalui observasi karya-karya Baligrafi, wawancara dilakukan dengan pelaku seni dan studi dokumen. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitik, dan didapatkan hasil sebagai berikut: karya seni Baligrafi merupakan wujud perpaduan estetik sebagai energi sistem simbol sastra rupa. Isi dari seni Baligrafi adalah intisari kehidupan, bentuknya berupa aksara, wujud dewa, binatang, manusia, dan pepohonan. Karya seni Baligrafi ini berhubungan dengan Jnana—pengetahuan tertinggi dalam filsafat agama Hindu.    
Read more articles