Imperatif dalam Bahasa Indonesia : Penanda-penanda Kesantunan Linguistiknya

R. Kunjana Rahardi
Journal article Humaniora • 1999 Indonesia

Abstract

Terdapat empat pemarkah kesantunan linguistik (linguistic politeness) tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Keempat pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan . Sedikitnya terdapat 10 macam ungkapan pemarkah yang dapat menentukan kesantunan linguistik tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia . Pemarkah-pemarkah kesantunan linguistik tuturan imperatif tersebut adalah tolong, mohon, silakan, marl, biar, ayo, coba, harap, hendak(lahlnya), dan sudi kiranyalsudilah kiranyalsudi apalah kiranya . 1. Pengantar Sesuai dengan judulnya, di dalam tulisan ini akan diperikan penanda-penanda kesantunan linguistik tuturan imperatif bahasa Indonesia . Yang dimaksud dengan penanda kesantunan linguistik (linguistic politeness) adalah ungkapan entitas linguistik yang kehadirannya dalam tuturan menyebabkan to turan tersebut menjadi Iebih santun dibandingkan dengan tuturan sebelumnya . Di samping kesantunan jenis yang pertama itu dalam linguistik terdapat jenis kesantunan lain yang kemunculannya bukan didasarkan pada hadir tidaknya ungkapan entitas linguistik, melainkan karena terdapatnya entitasentitas nonlinguistik yang sifatnya pragmatik . Kesantunan jenis kedua itu lazim disebut de- 16 I Doktor, Magister Humaniora, staf pengajar ASMI Santa Maria, Yogyakarta . ngan kesantunan pragmatik (pragmatic politeness). Karena berbagai keterbatasan, yang akan diperikan di dalam tulisan singkat ini hanyalah kesantunan jenis pertama . Dengan demikian jenis kesantunan yang kedua berada di luar lingkup tulisan ini . Data penulisan singkat ini didapatkan secara lokasional dari sumber data tertulis maupun lisan yang terdapat di dalam pemakaian bahasa Indonesia keseharian (ordinary language) . Data tersebut didapatkan dengan cara melakukan penyimakan terhadap pemakaian bahasa tulis maupun lisan . Di samping itu, data tulisan singkat ini juga didapatkan dengan cara mengadakan percakapan dengan mitra tutur yang dalam kesehariannya berbahasa Indonesia . Dengan perkataan lain, data penulisan ini didapatkan dengan menerapkan metode simak dan metode cakap seperti yang lazim digunakan di dalam penelitian-penelitian linguistik struktural . Karena penulis merasa memiliki distansi lingual yang masih berkadar kuat dengan bahasa Indonesia, data penulisan ini pun juga dibangkitkan secara kreatif dad intuisi lingual penulis. Dalam hal yang terakhir ini data harus dikenai teknik triangulasi terlebih dahulu untuk menguji keabsahannya sebagai data penulisan ilmiah .

Metrics

  • 270 views
  • 445 downloads

Journal

Humaniora

Humaniora is a peer-reviewed quarterly journal founded in 1989 that publishes original research a... see more