Interaksi Sosial Siswa Difabel Dalam Sekolah Inklusi Di SMA Negeri 8 Surakarta.

Rifki Yudhanto

Abstract

Rifki Yudhanto. K8412069. INTERAKSI SOSIAL SISWA DIFABEL DALAM SEKOLAH INKLUSI DI SMA NEGERI 8 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor yang mempengaruhi interaksi sosial siswa difabel dengan siswa non-difabel dan bentuk interaksi sosial siswa difabel dengan siswa non-difabel. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 8 Surakarta.Jenis dan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan informan berupa purposive sampling. Informan yang dipilih adalah 4 siswa difabel dengan jenis keterbatasan yang berbeda-beda, 4 siswa non-difabel, 1 guru pembimbing khusus, dan 2 guru mata pelajaran. Data primer dikumpulkan melalui teknik wawancara, observasi langsung. Data sekunder dikumpulkan melalui teknik dokumentasi. Uji validitas data menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Analisis data melalui menginterpretasikan kata-kata yang disampaikan oleh informan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi interaksi sosial antara siswa difabel dengan siswa non-difabel adalah karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kegiatan akademis maupun non-akademis baik itu di kelas maupun di luar kelas. Dalam kegiatan akademis, siswa difabel mampu memberikan pendapatnya dalam menjawab tugas kelompok. Kemudian siswa non-difabel membantu siswa difabel dalam kegiatan pembelajaran berupa mendiktekan kembali penjelas dari guru dan memindahkan siswa difabel ke depan kelas untuk mengikuti presentasi kelompok. Dalam kegiatan non-akademis, siswa non-difabel membantu siswa difabel mengakses fasilitas yang tersedia di sekolah. Bentuk interaksi sosial siswa difabel dengan siswa non-difabel terlihat pada tatap muka secara berkelompok dan tatap muka antar individu. Dalam tatap muka secara berkelompok terlihat adanya kegiatan diskusi kelompok antara siswa difabel dengan anggota kelompoknya. Dalam tatap muka antar individu terlihat adanya pertentangan berupa pola perilaku siswa non-difabel dan perbedaan pendapat dengan guru. Kemudian adanya kontravensi yang berupa tindakan penolakan siswa difabel yang disebabkan menerima gangguan dari pembicaraan yang di dengar dari teman sekelasnya mengenai sikap siswa difabel.Teori konsep diri Charles Horton Cooley melihat siswa difabel yang merasa bangga terhadap tindakannya memperlakukan dirinya sama dengan siswa non-difabel, karena menerima tanggapan positif dari sikap siswa non-difabel sehingga terwujud kerjasama. Sedangkan teori konsep diri ini melihat siswa difabel yang merasa kecewa terhadap tindakannya memperlakukan dirinya sama dengan siswa non-difabel, karena menerima tanggapan negatif dari sikap siswa non-difabel sehingga terwujud pertentangan dan kontravensi.

Metrics

  • 78 views
  • 48 downloads

Journal

Sosialitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sosiologi-Antropologi

Sosialitas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sosiologi-Antropologi is a biannual, peer-reviewed, open acc... see more