Transformasi Penokohan Tokoh Wayang Dalam Karya Fiksi Indonesia *)

Burhan Nurgiyantoro
Journal article Jurnal Penelitian Humaniora UNY • October 1998 Indonesia

Abstract

Seni budaya pewayangan merupakan tradisi seni budaya yang mendasari dan berperan besar dalam membentuk karakter dan eksistensi bangsa serta banyak berpengaruh terhadap penulisan sastra Indonesia modern. Walau cerita wayang diwariskan dan dikenal oleh masyarakat terutama lewat pertunjukan yang bersifat lisan dan teatrikal, cerita itu semula merupakan karya tulis yang dewasa ini dikenal sebagai fiksi. Transformasi unsur pewayangan ke dalam fiksi mencangkup berbagai unsur instrinsik, yaitu munculnya unsur pewayangan ke dalam teks fiksi dengan Perubahan dan mempunyai pola tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model transformasi penokohan tokoh cerita wayang dalam karya fiksi Indonesia.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Model transformasi diperoleh dengan membandingkan unsur-unsur teks fiksi dengan teks pewayangan yang ditrasnformasikannya. Sumber data adalah karya fiksi yang diterbitkan antara tahun 1980-1995, terdiri dari 4 novel dan 7 cerpen, yang pengambilannya dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dari teks dilakukan dengan teknik analisis wacana, sedang data dari narasumber dengan taknik wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik komparatif-induktif, kategorisasi, dan inferensi.Secara umum terdapat dua model transformasi penokohan, yaitu berupa transformasi tokoh wayang ke dalam tokoh fiksi dari tokoh dunia wayang dan tokoh fiksidari dunia manusia modern. Model I terdiri dari Model IA, yaitu pengubahan karakter tokoh secara mendasar dan bertentangan dengan karakter tokoh wayang dalam pakem, model IB berupa pencaampuradukan kerakter antarakarakter tokoh wayang dengan karakter tokoh bukan wayang yang berciri peradaban modern, dan Model IC berupa pengubahan karakter tokoh wayang ke dalam karakter tokoh bukan wayang secara bertentangan dengan karakter wayang yang ditasnformasikan penamaan dan perwatakan tokoh wayang, Model II terdiri dari Model IIA yang berupa transfomasi penamaan daan perwatakan tokoh wayang, model IIB traansformasi perwatakan tanpa disertai penamaan, dan Model IIC transformasi penamaan tanpa disertai perwatakan. Transformasi penokohan tokoh wayang ke dalam tokoh fiksi terasa lebih intensif dan tipikal jika mencangkup perwatakan atau perwatakan dan penamaan daripada hanya mencangkup penamaan tanpa disertai perwatakan. Tokoh cerita wayang dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan dan pesan lewat penghipograman, perbandingan,pelambangan karakterdan pengkarikaturan tokoh.

Metrics

  • 77 views
  • 6 downloads

Journal

Jurnal Penelitian Humaniora UNY

Jurnal Penelitian Humaniora menerbitkan artikel hasil penelitian nonpendidikan dan permasalahan-p... see more