Dynamics of the Plague Transmission Cycle in Central Java (Ecology of Potential Flea Vectors)

Padmowiryono, Soeharto Arimbi • Martoprawiro, Supalin • Turner, Ronald W.
Journal article Indonesian Bulletin of Health Research • June 1974 Indonesia

Abstract

Setelah begitu lama tidak ada laporan mengenai peristiwa penyakit pes di Indonesia, maka tiba-tiba pada tahun 1968 - 1969 dilaporkan adanya 102 penderita, 42 meninggal dan tahun 1969 - 1970 penderita, 2 meninggal. Oleh karena itu diadakan suatu penelitian untuk mendapatkan data-data ecology penyakit pes di Boyolali, Jawa Tengah. Walaupun tidak ada peningkatan jumlah penderita, pada waktu itu telah dapat diisolasi adanya bakteri pes dari binatang mengerat dan pinjal. Ini berarti transmisi masih berlangsung; terus dan selalu mengancam kesehatan penduduk. Daerah infeksi Boyolali terdapat dilereng gunung Merapi dan Merbabu diatas ketinggian 1.000 m. Tiga jenis pinjal Xenopsylla cheopis, Stivalius cognatus dan Neopsylla sondaica ada hubungannya dengan binatang menyusui didaerah tersebut. Diatas ketinggian 1.000 m S. cognatus dan N. sondaica merupakan pinjal yang paling banyak ditemukan didaerah ladang, dan X. cheopis diperumahan des Pada ketinggian kurang dari 1.000 m tidak ditemukan S. cognatus dan N. sondaica sedangkan X. cheopis ditemukan didaerah ladang dan Perumahan desa. Walaupun X. cheopis merupakan vector yang effisien dan jarang ditemukan didaerah ladang maka diduga bahwa pinjal tersebut tidak utama memegang peranan dalam penularan ini. Namun demikian pada masa epizootik X. cheopis mempunyai peranan pada siklus penularan antara binatang menyusui, binatang mengerat dan manusia. Sedangkan S. cognatus diduga merupakan vector utama, dan N. sondaica vector kedua, pada penularan pes. Jarangnya vector pada daerah ketinggian kurang 1.000 m, memperlihatkan bahwa pes di Jawa bersifat pegunungan. Kepadatan binatang menyusui yang merupakan reservoir utama dari penyakit pes yaitu Rattus exulans dan tiomanicus lebih banyak pada daerah ketinggian diatas 1.000 m. Binatang mengerat dan pinjal jarang ditemukan didaerah ladang, sedangkan jenis hutan di pinggiran sering ditemukan didaerah tempat tinggal, sehingga mengakibatkan kemungkinan terjadinya penularan penyakit pes pada manusia. Pengamatan pendahuluan menunjukkan bahwa berbagai jenis pinjal hidup pada binatang menyusui yang paling sering ditemukan saja baik diladang maupun di Perumahan.

Metrics

  • 210 views
  • 129 downloads

Journal

Indonesian Bulletin of Health Research

Buletin Penelitian Kesehatan (Indonesian Bulletin of Health Research) is a quarterly, open access... see more