Gambaran Praktik Penggunaan Jamu oleh Dokter di Enam Provinsi di Indonesia

Purwadianto, Agus • Gitawati, Retno • Siswoyo, Hadi • Astuti, Yun • Widowati, Lucie 1 more
Journal article Indonesian Bulletin of Health Research • September 2012 Indonesia • Netherlands

Abstract

Herbal medicine has been widely used. Government supports become more obvious since the declaration of €œSaintifikasi Jamu€ in Januari 2010 in Kendal, Central Java. To obtain this program, inventory of herbal medicine usage by physicians was conducted. This was a cross sectional descriptive study in 6 provinces of Java and Bali. Doctors registered as member of herbal medicine related association were invited and asked to fill a set of structured questionnaire. A total of 108 physicians using Indonesian herbal medicine participated in this study. They were either general practitioners or specialists with median age of 43 (range 26-70 years old). They (76.9%) have used herbal medicine for 1-10 years with median of 2 patients per day (range 0-40). The physicians also practiced other traditional medicines such as acupuncture (47.2 %), massage (7.4 %), acupressure (6.5%). Besides prescribing herbal medicine to their patients, all physicians also consumed herbal medicine for themselves and their family. They used mainly with mono or combined herb in capsule and simplicia. Mostly herbal medicine were given to hypertension, dyslipidemia, diabetes mellitus, acute upper respiratory disease, hepatitis, hyperuricemia, osteoarthritis, diarrhea, cancer, and gastritis. Curcuma xanthorrhiza, Andrographis paniculata, Curcuma domestica (turmeric), Centella asiatica, Orthosiphon aristatus, Apium graveolens (celery), Phylanthus niruri, Guazuma ulmifolia, Zingiber officinale, and Curcuma zedoaria were prescribed. As conclusion, most of the herbal physician in Java and Bali prescribed Indonesian herbal medicine in this 10 years periode combined with foreign herbal medicine and other traditional medicines but still using conventional medicine as the highest standard of theraphy. Key words: herbal medicine, Saintifikasi Jamu, traditional medicine AbstrakPemanfaatan jamu telah berkembang luas. Dukungan pemerintahpun semakin jelas sejak dicanangkannya Saintifikasi Jamu pada bulan Januari 2010 di Kendal. Untuk mencapai kegiatan ini, dilakukan pencatatan penggunaan jamu oleh dokter praktik. Studi deskriptif potong lintang ini dilakukan di 6 provinsi di Jawa dan Bali. Dokter yang terdaftar sebagai anggota perhimpunan seminat terkait jamu diundang dan diminta mengisi kuesioner terstruktur. Sejumlah 108 dokter praktik yang menggunakan jamu asli Indonesia berusia 26-70 tahun, baik dokter umum maupun spesialis, berpendidikan strata 1 hingga strata 3 bersedia menjadi responden. Sebanyak 76,9 % dokter melakukan praktik jamu antara 1€”10 tahun dengan median 2 pasien/hari (kisaran 0€”40). Dokter praktik jamu juga melakukan cara pengobatan tradisional lain seperti akupunktur (47,2 %), pijat/releksi (7,4 %), akupresur (6,5 %). Selain memberikan jamu untuk pasien, semua dokter juga memanfaatkan jamu untuk diri sendiri dan keluarga. Lebih banyak menggunakan jamu asli Indonesia bentuk tunggal atau ramuan dalam sediaan kapsul maupun rebusan simplisia. Jamu terutama untuk pengobatan hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, ISPA, hepatitis, hiperurisemia, osteoartritis, diare, kanker, dan gastritis. Jenis bahan jamu yang banyak dipakai adalah temulawak, sambiloto, kunyit, pegagan, kumis kucing, seledri, meniran, jati Belanda, jahe, dan kunir putih. Sebagai kesimpulan, sebagian besar dokter praktik jamu di Jawa Bali sudah melakukan praktik menggunakan jamu asli Indonesia dalam 10 tahun terakhir dipadu dengan obat tradisional yang berasal dari luar negeri dan pengobatan tradisional lain namun pengobatan konvensional masih dipegang sebagai standar pengobatan tertinggi. Kata kunci: jamu, saintifikasi jamu, pengobatan tradisional

Metrics

  • 89 views
  • 71 downloads

Journal

Indonesian Bulletin of Health Research

Buletin Penelitian Kesehatan (Indonesian Bulletin of Health Research) is a quarterly, open access... see more