Hubungan Komponen Sindrom Metabolik dengan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di Lima Kelurahan Kecamatan Bogor Tengah

Tuminah, Sulistyowati • Sihombing, Marice

Abstract

Sindrom metabolik (SM) merupakan prediktor diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komponen SM dengan risiko DM di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data responden yang tidak DM pada tahun 2011-2012 (data baseline), Penelitian Studi Kohor Penyakit Tidak Menular di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah yang diikuti hingga tahun kedua (2013-2014). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pemeriksaan fisik (lingkar Perut, dan tekanan darah), dan pemeriksaanlaboratorium (gula darah puasa, gula darah 2 jam beban glukosa, kolesterol HDL, dan trigliserida). Diabetes ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah puasa ‰¥ 126 mg/dL, dan atau gula darah 2 jam beban glukosa ‰¥ 200 mg/dL. Pada tahun kedua jumlah responden sebanyak 4.342 dan yang melakukan pemeriksaan secara lengkap sebanyak 3.320 responden. Dari 3.320 responden yang tidak DM, setelah diikuti selama 2 tahun ditemukan 161 orang (4,8%) menjadi DM, laki-laki 42 orang (4,2%) dan perempuan 119 orang (5,2%). Faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian DM adalah umur dan seluruh komponen SM (obesitas sentral, hiperglikemia, hipertrigliserida, kolesterol HDL rendah, dan hipertensi). Semakin bertambah umur semakin meningkat juga risiko insiden DM. Komponen SM yang memiliki hubungan yang sangat kuat untuk terjadinya DM adalah gula darah puasa dengan risiko 6,71 kali lipat (95%CI; 4,76-9,47). Risiko insiden penyakit DM meningkat tajam hingga 65,94 kali lebih besar bila memiliki 5 komponen SM dibandingkan dengan yang tidak mempunyai komponen SM. Disimpulkan bahwa jumlah komponen SM berisiko meningkatkan kejadian DM setelah diikuti selama 2 tahun.Kata Kunci : sindrom metabolik, diabetes melitus, insiden, risiko AbstractMetabolic syndrome (MetS) is a predictor of diabetes mellitus (DM). This study aimed to analyze the association between the components of MetS and the risk of DM in five villages in Bogor Tengah subdistrict. Data being used in this analysis were baseline data of non-DM respondents for Non-Communicable Diseases Cohort Study during period of 2011-2012, which has been followed up to the second year (2013-2014). Data were collected using interviews and questionnaires, physical measurements (waist circumference and blood pressure) and laboratory measurements (fasting blood glucose, two-hour postprandial glucose, HDL cholesterol and triglyceride profile). Diagnosis of DM was determined based on the result of fasting blood concentration ‰¥ 126 mg/dL) and or 2 hours postprandial glucose ‰¥ 200 mg/dL. There were 4,342 respondents during the second year follow-up and 3,320 respondents had completed examinations. During the two-years of follow-up, 161 respondents (4.8%) had developed DM, which consisted of 42 men (4.2%) and 119 women (5.2%). Factors associated with the incidence of DM were age and all components of the MetS (central obesity, hyperglycemia, hypertriglycerides, low level of HDL cholesterol, and hypertension). The risk of DM incidence increased with increasing age. The component of MetS that strongly associated with DM incidence was fasting blood glucose level with RR 6.71 fold (95% CI; 4.76 - 9:47). The risk of DM incidence was significantly increased about 65.94 times greater when five components were present compared with that do not have components at all. The conclusion of this study based on the two-years of follow up is that the number of MetS component increases the incidence of DM.Keywords : metabolic syndrome, diabetes mellitus, incidence, risk

Metrics

  • 78 views
  • 65 downloads

Journal

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Health Research and Development Media) is an open ac... see more