Pengaruh Ketinggian Habitat Kelapa (Cocos Nucifera) Terhadap Pengembangbiakan Bacillus Thuringiensis H-14 Dan Toksisitasnya Terhadap Jentik (Anopheles Aconitus)

Ch.P, Blondine • Susanti, Lulus
Journal article Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan • March 2013

Abstract

Penggunaan Bacillus thuringiensis H-14 sebagai biolarvasida sudah banyak diketahui di masyarakat. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) telah menguji penggunaan media buah kelapa sebagai media pengembangbiakan B.thuringiensis H-14. Pada penelitian ini dilakukan pengembangbiakkan B.thuringiensis H-14 galur lokal dengan menggunakan media air kelapa yang diambil dari berbagai wilayah dengan memperhatikan ketinggian wilayahnya. Lokasi pengambilan sampel air kelapa adalah daerah dengan ketinggian < 20 m dpl (pantai Parangtritis), 21 – 250 m dpl (Kabupaten Purworejo), 251 – 500 m dpl (Kabupaten Semarang) dan 501 – 750 m dpl (Kota Salatiga). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil air buah kelapa hijau umur 4 – 6 bulan atau berat mencapai > 600 gram dari masing-masing wilayah penelitian. Kemudian air kelapa dari masing-masing wilayah penelitian diambil secara random untuk dilakukan pengujian kandungan nutrisinya, sedangkan sisanya di sterilisasi untuk dijadikan media pengembangbiakan B.thuringiensis H-14. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil pengembangbiakan di media air kelapa yang didapatkan dari lokasi dengan ketinggian habitat yang berbeda-beda, serta efek toksisitasnya terhadap jentik Anopheles aconitus. Hasil uji analisa air kelapa dari pantai Parangtritis adalah kadar karbohidrat 1,82%, dengan lemak 0,02%, protein 0,04% dan gula reduksi sebesar 1,67%. Air kelapa dari kabupaten Purworejo kandungan karbohidrat 1,92%, lemak 0,01%. protein 0,06% dan gula reduksi 1,87%. Air kelapa dari Kabupaten Semarang kandungan karbohidrat 1,68%, lemak 0,01%, protein 0,12% dan gula reduksi 1,52%. Sedangkan kandungan karbohidrat dari air kelapa kota Salatiga adalah 3,12% merupakan kandungan yang tertinggi dibandingkan dari daerah lain, kandungan lemak 0,01%, protein 0,11% dan gula reduksi 2,97%, merupakan kandungan tertinggi dibandingkan dengan hasil dari daerah lain. Hasil pertumbuhan sel dan spora B.thuringiensis H-14 dari media air kelapa pantai Parangtritis pada pH 7,5 adalah 85,7 x1010 dan 11,1 x 1010, sedangkan dari kabupaten Purworejo jumlah sel dan spora yang dihasilkan adalah sebesar 2,3 x 1010 dan 2,5 x 1010. Media air kelapa dari kabupaten Semarang jumlah sel dan spora sebesar 24,9 x 1010 dan 23,9 x 1010, dan air kelapa yang berasal dari kota Salatiga 62,7 x 1010 dan 1,1 x 1010. Kesimpulan dari penelitian ini adalah B.thuringiensis yang dikembangbiakkan dalam media dari kabupaten Semarang memiliki Lc50 0,003 % dan Lc95 0,021%,yang merupakan Lc terkecil dibandingkan dengan B.thuringiensis yang dikembangbiakkan dalam media air kelapa dari daerah lain. Kata kunci : B.thuringiensis H-14, Air kelapa, toksisitas Abstract Using of Bacillus thuringiensis H-14 as a Biolarvacide are more commonly on this decade. Institute of Vector Control and Reservoir Disease (IVCRD) has used coconut as a medium for B.thuringiensis H-14. This research used only coconut water that was took from many kind of places with difference on altitudes. Locations of this research were from Parangtritis (with altitude < 20 m dpl)), Purwerojo district (150 m dpl), Semarang district (400 m dpl) and Salatiga municypality (650 m dpl). The objective of this study is to know what difference result of B.thuringiensis H-14 spores that was growth from many kind of habitat (locations) which is diferent on altitudes, and the eficacy of B.thuringiensis H-14 to An.aconitus larvae. The nutrition that contain on coconut water was analise by Health Laboratory on Semarang District. Result of this research shows that coconut water from Parangtritis beach was contain of carbohidrat 1.82 %, fats 0.02%, protein 0.04% dan glucose 1.67%. Coconut water from Purworejo district was contain carbohydrat 1.92%, fats 0.01%, protein 0.06% and glucose 1.87%. There for coconut water from Semarang district was contain carbohydrats 1.68%, fats 0.01%, protein 0.12% and glucose 1.52%. And the coconut water from Salatiga Munycipality was contain carbohydrat 3.12%, that is the highest than others, fats 0.01%, protein 0.11% and glucose 2.97%. Number of sels and spores that growth on that medium were different. Number of sels and spores from parangtritis beach medium were85.7 x 1010 and 11.1 x 1010. Coconut water medium from Purworejo district may potencial to growth B. thuringiensis H.14. number sels and spores from Purworejo district medium were 2.3 x 1010 and 2.5 x 1010. Coconut water medium from Semarang district could resulting number of sels and spores were 24.9 x 1010 and 23.9 x 1010, and the medium from Salatiga municypality were 62.7 x 1010 and 1.1 x 1010. The efficacy from B.thuringiensis to the An.aconitus larvae shows that lethal concentration from Semarang district were Lc50 0.003% dan Lc95 0.021%, which is the lowest concentration than B.thuringiensis that was growth on the medium from other places. Keywords : B.thuringiensis H-14, coconut water, An.aconitus

Metrics

  • 151 views
  • 68 downloads

Journal

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Health Research and Development Media) is an open ac... see more