Tinjauan Efektivitas Penyelesaian Sengketa dengan Perjanjian Bilateral dalam Kerangka Unclos 1982 ( Studi Kasus Pulau Dokdo/takhesima antara Korea Selatan dan Jepang)

Gagang Ilalang, Arba’In Ridho Afiansyah, Hangga Tri Hayoga
Journal article Serambi Hukum • July 2015 Japan • South Korea

Download full text
(Bahasa Indonesia, 8 pages)

Abstract

Sengketa antara Korea Selatan dengan Jepang atas pulau Dokdo/Takeshima di wilayah kelautan di asia timur terjadi sejak tahun 1905 dan belum terselesaikan hingga sekarang. Kedua pihak yaitu Korea Selatan dan Jepang saling mengklaim bahwa Pulau Dokdo/Takeshima merupakan milik mereka dengan argument-argumen yang telah mereka buat masing-masing. Dalam Kerangka UNCLOS 1982, terdapat dua cara yang dapat digunakan dalam penyelesaian sengketa Internasional yaitu dengan penyelesaian sengketa dengan jalan damai dan penyelesaian sengketa dengan prosedur wajib (compulsory settlement) yang keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing terhadap dampak dari putusan yang dikeluarkan. Saling klaim terhadap Pulau Dokdo terus terjadi karena kedua Negara tidak ada yang mengalah. Sampai akhirnya pada tahun 1997 dihasilkan sebuah perjanjian kerjasama mengenai “fishing trade area” yang pada akhirnya tidak memuaskan kedua belah pihak dan Perjanjian Damai San Fransisco “San Fransisco Peace Treaty” (SFPT) yang dibuat tahun 1952 digunakan kembali. Penyelesaian sengketa secara bilateral dan melalui Mahkamah Internasional menjadi jalan terakhir dalam penyelesaian sengketa pulau Dokdo/Takeshima ini, namun kedua penyelesaian tersebut memiliki efektivitas yang berbeda dari keputusan yang dihasilkan yaitu Win-Win Solution untuk penyelesaian Bilateral dan Win-Lose Solution untuk penyelesaian melalui Mahkamah Konstitusi.

Metrics

  • 523 views
  • 337 downloads

Journal

Serambi Hukum

Jurnal Serambi Hukum berisi hasil laporan penelitian, baik penelitian dasar, terapan maupun penel... see more