MAKNA PENDIDIKAN KEAKSARAAN (Konstruksi Sosial Warga Keaksaraan dan Tutor di Desa Jumok, Kecamatan Ngraho,Kabupaten Bojonegoro)

Yuli Wijayanti

Download full text
(Bahasa Indonesia, 9 pages)

Abstract

Buta aksara merupakan suatu ketimpangan sosial karena ketidakmampuan seseorang untuk bisa melatih diri dalam membaca maupun menulis. Pendidikan keaksaraan menjadi penting dikarenakan adanya upaya pemerintah untuk segera menuntaskan buta aksara. Penelitian ini secara empiris menjawab tentang makna pendidikan keaksaraan (Konstruksi Sosial warga keaksaraan dan tutor di Desa Jumok, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan adalah teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan teori Fenomenologi Alfred Schutz. Subjek penelitian ini adalah warga keaksaraan dan tutor yang mendampingi. Menggunakan teknik “snowball” dan “purposive”. Data primer diperoleh melalui observert (pengamatan), indepth interview dan foto kemudian data sekunder berupa Arsip. Hasil penelitian menyebutkan bahwa keberadaan pendidikan keaksaraan memacu minat warga untuk belajar membaca dan menulis, namun disisi lain warga memilih untuk menggeluti kehidupan sehari-hari tanpa ingin belajar karena buta aksara sudah menjadi kebiasaan hidup yang nyaman. Tutor menganggap pendidikan sebagai “sistem bank” tutor mengatur aturan akademik pendidikan sedangkan warga hanya menjalankan aturan dari tutor, selain itu pendidikan sebagai eksistensialisme menyalahkan anggapan yang membenarkan bahwa warga putus sekolah dianggap buta aksara. Makna pendidikan keaksaraan dibangun dengan tujuan hanya untuk warga yang tidak memiliki ijazah serta legalitas drop out kelas 3 SD dianggap buta aksara. Kata Kunci: Pendidikan Keaksaraan, Buta aksara.

Metrics

  • 69 views
  • 172 downloads

Journal

Paradigma: Jurnal Online Mahasiswa S1 Sosiologi UNESA

Jurnal Paradigma merupakan Jurnal Online Mahasiswa Program Studi S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosi... see more