Kebijakan Pemda, Undang‐Undang Desa, dan Kedaulatan Pangan di Nusa Tenggara Timur

Policy Analysis PIKUL Society • 2015 Indonesia

Abstract

Bicara pangan mau tidak mau bicara gizi. Itu karena yang dibutuhkan tubuh sebenarnya adalah kandungan gizi dari pangan yang dikonsumsi. Undang‐Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan merumuskan konsep ketahanan pangan sebagai “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.” Selanjutnya dinyatakan, “mutu Pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan dan kandungan Gizi Pangan,” sementara “Gizi adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam Pangan yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, air, dan komponen lain yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.” Dengan demikian salah satu ukuran terpenuhinya pangan adalah kecukupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral bagi tubuh. Itu sebabnya pada banyak dokumen dan artikel terkait ketahanan pangan sering ditemukan pembahasan tentang kondisi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR); status gizi Balita; status wanita usia subur yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK), Anemia akibat kekurangan zat besi pada ibu hamil, serta gangguan akibat kekurangan Yodium (GAKY). Karena itu adalah menarik ketika banyak lembaga penggiat masalah pangan masih berkutat pada persoalan produksi pangan, pada ukuran jumlah produksi dan ketersediaan ‐‐yang umumnya fokus pada‐‐ pangan pokok, Perkumpulan Pikul Kupang justru menyoroti persoalan produksi dan konsumsi gizi di tingkat lokal pedesaan. Ini adalah sebuah langkah maju. Pertama karena persoalan produksi dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu bukan lagi kecukupan jumlah, tetapi kecukupan (dan keseimbangan) kandungan gizinya. Kedua, upaya mendorong pemenuhan gizi seimbang tidak dilakukan dengan semata‐mata memberi penyuluhan pangan seimbang gizi sebagaimana lazim dilakukan instansi pemerintah atau kelompok ibu‐ibu PKK, tetapi dengan mendorong masyarakat memanfaatkan potensi pangan sumber gizi yang ada di sekitar tempat tinggalnya, sekaligus meningkatkan ketersediaanya dengan berproduksi. Apa yang dilakukan Perkumpulan Pikul bersandar pada dua keyakinan pokok, yaitu bahwa pemenuhan gizi masyarakat bisa dicapai dengan memperkenalkan pola konsumsi pangan beragam; dan bahwa pola konsumsi pangan beragam itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat. Boleh dibilang Perkumpulan Pikul menggunakan pendekatan “kedaulatan gizi.” Istilah ini sekedar untuk memberi penegasan perbedaannya dengan praktik kampanye dan advokasi kedaulatan pangan yang cenderung berpusat pada aspek produksi pangan pokok atau sumber karbohidrat, belum masuk ke soal keberagaman dan keseimbangan gizi.

Metrics

  • 66 views
  • 23 downloads

Publisher

PIKUL Society

PIKUL is a non-profit, non-governmental organization founded in 1998 to strengthen local capacity... see more