Metrics

  • visibility 0 views
  • get_app 0 downloads
description Journal article public Fenomena

Pendidikan Ahlak dalam Pandangan KH. Abdul Muchith Muzadi

Ahmad Mutohar, Zainal Anshari
Published 2020

Abstract

Abdul Muchith Muzadi (termasuk juga dikenal dengan sebutan Mbah Muchith Muzadi), termasuk seorang kiai yang memiliki wawasan sangat luas, wara' mendalam dan tajam. Pada saat yang bersamaan, KH. Abdul Muchith Muzadi, termasuk sosok kiai yang memiliki etika sangat kuat, paling tidak hal itu terpancar dalam perilakunya sehari-hari. Beliau tetap berperilaku sebagaimana layaknya kiai yang khusu', wara' dan hidup dengan kesederhanaan. Kajian ini, memiliki fokus sebagai berikut; 1) bagaimana latar belang kehidupan, pendidikan dan pengabdian KH. Abdul Muchith Muzadi di dalam NU dan lembaga pendidikan Islam Indonesia? 2) apa saja karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh KH. Abdul Muchith Muzadi? 3) bagaimana konsep pendidikan ahlak dalam pandangan KH. Abdul Muchith Muzadi? Pendekatan penelitian kualitatif, dengan jenis library research (studi pustaka). Tujuan penelitian ini, untuk menjawab tiga hal yang telah dirumuskan di atas. Berikut kesimpulannya; Pertama, latar belang kehidupan, pendidikan dan pengabdian di dalam NU. KH. Abdul Muchith Muzadi dilahirkan di Bangilan Tuban, pada tanggal 19 jumadil awwal 1344 H/ 4 Desember 1925 M. beliau merupakan kader sekaligus aktivis NU yang dari sejak awal berjuang bersama putra KH. Hasyim Asy'ari, yakni KH. Wahid Hasyim. Kedua, beberapa karya tulis ilmiah KH. Abdul Muchith Muzadi. Sebagai berikut; 1) Beberapa Masalah Kewanitaan Dan Kepemimpinan Di Kalangan Wanita, 1974, makalah tidak diterbitkan. 2) Bermazhab. Sosiologis Atau Takut Resiko? Dalam pesantren No 4/Vol III/1998. Jakarta: P3M. 3) Berusaha memahami kehadiran bank-BPR, dalam majalah AULA. Maret 1991, dan sebagainya. Ketiga, Konsep pendidikan ahlak dalam pandangan KH. Abdul Muchith Muzadi. Konsep pola hidup birrul walidain. Menurutnya, Islam menempatkan birrul walidain ini sebagai kewajiban dengan urutan nomor dua sesudah beribadah kepada Allah dan sebaliknya menempatkan uququl walidain sebagai larangan dengan urutan nomor dua sesudah syirik (menyekutukan Allah).

Full text

 

Metrics

  • visibility 0 views
  • get_app 0 downloads