Sistem Perwarisan Masyarakat Adat Saibatin dalam Keluarga yang Tidak Mempunyai Anak Laki-laki (Studi di Kota Bandar Lampung)

Atiansya Febra
Journal article Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya • 2015 Indonesia

Download full text
(Bahasa Indonesia, 22 pages)

Abstract

Lampung people who are patrilineal, meaning pull paternal lineage, it is concerned with a son in a family member as successor descent. A special circumstances where a family does not have son, it is possible doing adoptions through customary marriage Semanda (ngakuk ragah). The problem in this research is how the implementation of inheritance on the indigenous peoples of Lampung Saibatin who do not have sons in the view of Islamic law? The purpose of this paper is to investigate the inheritance of indigenous peoples and leasing Saibatin and their inheritance dispute resolution. This research used empirical research method with a sociological juridical approach which is based on the data and valid data source. Based on the research results is known that if a family has no son, in order not to broke off descendants, then the women did the appointment of sons that be approved in the awarding ceremonies, known as the "Anak Mentuha". Then daughter do Semanda marriage by choosing men (ngakuk ragah), namely the anak mentuha. Son that result of the marriage which will then be entitled to the inheritance. Seen from the point of Islamic law, indigenous peoples of Lampung Saibatin actually do not have a system of inheritance, because of fundamental differences in the concept of inheritance of Islamic law with indigenous peoples of Lampung Saibatin, Bandar Lampung city. In the Islamic law, the terms of an inheritance is when the Heir has passed away, while the indigenous peoples Lampung Saibatin, Bandar Lampung share inheritance before the Heir passed away, by using the grant (forwarding or redirection) and the grants testament (designation), and the large part of the heirs is not determined by nas (Faraid), but by consensus.Key€™words: system inheritance, indigenous peoplesAbstrakMasyarakat Lampung yang bersifat Patrilineal, artinya menarik garis keturunan kebapakan, sangat mementingkan seorang anak laki-laki dalam anggota keluarganya sebagai penerus keturunan. Sebuah keadaan khusus, dimana dalam sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, dimungkinkan melakukan pengangkatan anak melalui perkawinan adat semanda (ngakuk ragah). Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pewarisan masyarakat adat Lampung saibatin dalam keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki dan bagaimana cara penyelesaian sengketa waris dalam masyarakat adat Saibatin. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui sistem perwarisan masyarakat adat Lampung Saibatin dan cara penyelesaian sengketa perwarisan mereka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian empiris, dengan pendekatan yuridis sosiologis, yang didasarkan pada data dan sumber data yang valid. Berdasarkan hasil penelitian atas rumusan masalah tersebut diketahui bahwa apabila sebuah keluarga tidak mempunyai anak laki-laki, agar tidak putus keturunan maka pihak perempuan melakukan pengangkatan anak laki-laki yang disahkan dalam upacara adat pemberian gelar, yang dikenal dengan €œAnak Mentuha€. Kemudian anak perempuan melakukan perkawinan semanda dengan mengambil laki-laki (ngakuk ragah) yaitu anak mentuha tersebut. Anak laki-laki hasil perkawinan terbutlah yang kemudian akan berhak atas harta warisan. Dalam hal penyelesaian sengketa, masyarakat adat saibatin kota Bandar Lampung menggunakan cara kekeluargaan, yaitu menggunakan cara musyawarah keluarga dan musyawarah adat.Kata kunci: sistem perwarisan, masyarakat adat

Metrics

  • 292 views
  • 1466 downloads

Journal

Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya is a student-run law review published four ... see more