Metrics

  • visibility 278 views
  • get_app 900 downloads
description Journal article public Jurnal Sosioteknologi

Kepelautan Indonesia: Peluang dan Tantangan

Dicky R. Munaf
Published 2015

Abstract

Indonesia memegang peran penting dalam industri maritim dunia. Negara ini telah melakukannya melalui penyediaan pelaut untuk pasar utama perekrutan kru pelaut di Eropa, Amerika Utara dan Timur Jauh. Dalam hal kualitas, pelaut Indonesia berada di level yang sama dengan pelaut-pelaut dari Filipina, India, Vietnam, Sri Lanka, Bangladesh dan negara lainnya yang memproduksi pelaut, dikarenakan pusat pelatihan sesuai dengan standar atau persyaratan yang ditetapkan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang tertulis dalam Standard of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) 1995. Pasar kru pelaut di dunia meningkat bagi negara-negara pemasok selama dua puluh tahun terakhir karena generasi muda di negara-negara pasar kehilangan keinginan untuk menjadi pelaut pedagang. Mereka lebih suka bekerja di darat karena memiliki bahaya yang lebih kecil daripada bekerja dilaut. Namun, dalam Kenyataannya, para pelaut Indonesia mengalami kesulitan dalam meraih kesempatan mati dikarenakan faktor kekurangan yang terdapat pada individu dan institusi. Filipina berada di daftar teratas; mereka adalah pilihan terbaik bagi pemilik kapal. Kemudian, India, Bangladesh dan Sri Lanka adalah pilihan berikutnya. Masalah individu mengacu kepada kompetensi pelaut dalam menjalankan tugasnya diatas kapal, sementara aspek kelembagaan berkaitan dengan kebijakan dan peraturan yang diterapkan oleh pemerintah untuk mendukung sektor ini.Kata kunci: Pelaut, STCW 1995, Sentral pelaut, Dokumen identitas tunggal, Agen pengawak Indonesia plays pivotal role in the world's maritime industry. The country has been doing so through supplying seafarers to main crewing market in Europe, North America and Far East. In term of quality Indonesian seafarers are in level playing field with those of Philippines, India, Vietnam, Sri Lanka, Bangladesh and other seafarers producing countries since its training centers comply with standards or requirements set up by the International Maritime Organization (IMO) written down in the Standard of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) 1995. The world's crewing market is bullish for the supplying countries for the last twenty years because young generation in the market states loses eagerness to become merchant mariner. They prefer working onshore since it poses less danger than of the off shore. Nevertheless, in reality, the Indonesian seafarers encounter difficulties in grabbing the opportunity die to several individual and institutional lacks. Filipinos are on top of the list; they are the best choice for shipowners. Then, Indians, Bangladeshies and Sri Lankan are the next option. The individual problem is due to seafarer's competency in carrying out his duty onboard a vessel, while the institutional aspect deals with policy and regulations adopted by the government to support the sector.

Full text

 

Metrics

  • visibility 278 views
  • get_app 900 downloads