Maraknya Penggunaan Buruh Outsourcing di Sukabumi

  • Sarah Hermaniar

Abstract

Di tengah persaingan global dan fluktuasi pasar saat ini, outsourcing memang bukan hal yang asing. Kemudahan merekrut, memberhentikan, serta tidak adanya pesangon yang harus dibayarkan oleh pengusaha, membuat outsourcing marak digunakan oleh para pengusaha. Sebaliknya, peningkatan jumlah buruh kontrak dan outsourcing ternyata diikuti dengan pengurangan jumlah buruh tetap secara signifikan. Namun buruh tetap yang digantikan oleh buruh kontrak kontrak dan outsourcing, membuat salah satu tujuan dari konsep LMF, yaitu menciptakan lapangan kerja, tidak tercapai sampai saat ini. Kesempatan kerja tidak bertambah, rotasi kerja lah yang membuat seolah-olah tenaga kerja banyak terserap. Tujuan mereka hanya satu: efisiensi Perusahaan agar dapat terus bersaing di dunia bisnis yang sangat dinamis. Efisiensi menurut para pengusaha artinya, buruh tetap diPHK, kemudian digantikan dengan buruh kontrak dan outsourcing. Tentu dengan upah yang lebih rendah dibandingkan buruh tetap. Saat ini, demi efisiensi, praktek perekrutan dan penempatan outsourcing telah merugikan dan sudah menyalahi Undang-Undang. Pertama, buruh kontrak dan outsourcing dipekerjakan selama bertahuntahun, sedangkan Undang-Undang Ketenagakerjaan no. 13 Tahun 2003 Pasal 59 Ayat 1 menyebutkan bahwa perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu; (a) pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya; (b) pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun; (c) pekerjaan yang bersifat musiman; atau (d) pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

Metrics

  • 132 views
  • 94 downloads

Publisher

AKATIGA

AKATIGA is a Bandung-based research institute founded in 1991 as a result of a partnership betwee... more