Respon Pemberian Paclobutrazol Pada Beberapa Varietas Kapas (Gossypium Hirsutum L.) Di Lahan Sawah Sesudah Padi

Budi Santoso • Fitriningdyah Tri Kadarwati

Abstract

Kapas (Gossypium hirsutum L.) merupakan penghasil serat alam yang digunakan untuk bahan baku tekstil. Pengembangan kapas diarahkan ke lahan-lahan marginal, walaupun sebagian ada yang ditanam pada sawah sesudah padi. Tingkat produktivitas serat kapas, saat ini masih rendah sekitar 0,8 sampai dengan 1 ton per hektar. Usaha peningkatan produksi kapas antara lain dengan pemberian zat stimulan (paclobutrazol), teruta-ma untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah bu-nga, dan jumlah buah. Kedua komponen tersebut menjadi penentu hasil serat. Paclobutrazol adalah zat stimu-lan bagi tanaman. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumberrejo, Bojonegoro pada bulan Mei sam-pai dengan Oktober 2010, pada lahan sawah sesudah padi. Perlakuan disusun secara faktorial dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak empat kali. Sebagai faktor pertama adalah 4 varietas kapas yang terdiri atas 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, dan 4) Kanesia 15. Faktor kedua adalah pemberian paclobutrazol melalui penyemprotan pada tanaman dengan dosis: a) 0; b) 1,50 l/ha diberikan sekali pada umur 60 hari; dan c) 1,50 l/ha diberikan dua kali umur 60 hari dan 75 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapas varietas Kanesia 8 dan 13 yang ditanam di lahan sawah sesudah padi mempunyai pertumbuhan vegetatif dan generatif optimal, kemudian disusul dengan Kanesia 13, Kanesia 14, dan Ka-nesia 15. Paclobutrazol yang disemprotkan pada tanaman kapas, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. Hasil kapas berbiji untuk varietas kapas Kanesia 8 dan Kanesia 13 sama, masing-masing sebesar 1.643 kg/ha dan 1.686 kg/ha. Cotton is a natural fibre crop for some textile raw material. The development of cotton is directed mainly to marginal lands, although few of it is planted in paddy fields after rice harvested. The productivity level of cotton fibre, is still low, about 0.8 to 1 ton per hectare. Effort to increase cotton production is done through the application of growth regulator aiming at enhancing to the growth of plant height, number of branches, number of flower, and boll. These components are fibre determinans. Research conducted at Sumberrejo Ex-perimental Garden, Bojonegoro from May to October 2010, in paddy fields after rice harvested. Factorial treat-ment arranged using randomized block design repeated four times. The first factor consisting of four cotton varieties: 1) Kanesia 8, 2) Kanesia 13, 3) Kanesia 14, and 4) Kanesia 15. The second factor is application of pa-clobutrazol by spraying the plants with USAge of: a) 0, b) 1.50 l/ha given once at age 60 days, and c) 1.50 l/ ha given twice at the age of 60 days and 75 days. The research showed that Kanesia 8 and Kanesia 13 varie-ties gave optimum vegetative and generative growth followed with Kanesia 13, Kanesia 14, and Kanesia 15. Paclobutrazol did not contribute significant effect on the growth of both vegetative and generative of cotton. The productivity of seed cotton of Kanesia 8 and Kanesia 13, 1,643 kg/ha and 1,686 kg/ha, respectively.

Metrics

  • 50 views
  • 33 downloads

Journal

Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri

Buletin Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak Industri adalah jurnal ilmiah nasional yang dikelola o... see more