Kyai Ageng Henis Dalam Sejarah Industri Batik Laweyan Surakarta

M.Ag, Hm. Fajar Shodiq, S.Ag
Journal article Gema • January 2017

Abstract

Awal mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang kental dengan agama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, seorang tokoh masyarakat Laweyan saat itu yang sangat disegani yang menganut agama Hindu yang taat. Ki Ageng Beluk bersahabat erat dengan Ki Ageng Henis yang merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Dakwah yang berkesan, membuat Ki Ageng Beluk dengan suka rela masuk Islam dan menyerahkan bangunan pura hindu miliknya pada Kyai Ageng Henis agar diperuntukkan keperluan dakwah Islam. Akhirnya pura tersebut ia ubah menjadi bangunan Masjid Laweyan, Tak heran, akulturasi budaya dari segi arsitektur, maupun cita rasa yang memenuhi masjid itu terdiri dari 3 unsur, yakni Hindu, Jawa dan Islam. Kyai Ageng Henis adalah tokoh negarawan sekaligus ulama yang mempunyai integritas tinggi yang mempunyai pemikiran maju kedepan. Ia tidak hanya berpikir mengenai akherat saja, namun diseimbangkan dengan kehidupan dunia. Para santri yang jumlahnya semakin banyak tidak hanya melulu diajarkan mengenai ilmu agama, namun juga kegiatan yang akan akhirnya akan memberikan kemapanan dari segi ekonomi keluarganya. Hingga memunculkan sebuah pertanyaan besar adakah kontribusi Ki Ageng Henis dalam perindustrian batik di kampung Laweyan Surakarta yang jarang terekspose public.Laweyan mengalami kemajuan signifikan ketika Perubahan status administratif pada tahun 1918. KawasanLaweyan masuk dalam wilayah administrasi kotamadya Surakarta, dan Batik Laweyan mengalami masa kejayaan dimana hampir seluruh penduduknya atau sekitar 90 persen menjadi pengusaha batik. Kemakmuran dan kekayaan orang-orang Laweyan dicatat dengan baik sebagai karakteristik perkampungan saudagar Jawa yang sukses. Ada satu gelar yang akhirnya disematkan pada orang-orang sukses saudagar batik laweyan, yakni “mbok mase”. Gelar itu semacam menunjukkan strata sosial, sekelas bangsawan. Bila dibandingkan dengan kategori gelar yang ada dalam lingkungan abdi dalem istana kerajaan, maka status sosial ”mbok mase” di Laweyan itu sejajar dengan kedudukan para abdi dalem kriya pembatik dalam dinas istana.

Metrics

  • 302 views
  • 698 downloads

Journal

Gema

Gema UNIBA dimaksudkan sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi bagi civitas Akademika UNI... see more