Dinamika Konsumsi Rumah Tangga Perdesaan pada Agroekosistem Lahan Kering Berbasis Palawija

Rizma Aldillah • Tri Bastuti Purwantini
Book chapter IAARD • 2015 Indonesia

Abstract

Konsumsi adalah kegiatan manusia menggunakan atau memakai barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan (Nurhadi, 2000). Konsumsi pangan sebagai kebutuhan utama penduduk, karena pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling azasi, sehingga penduduk atau rumah tangga akan berusaha untuk mencapai terwujudnya ketahanan pangan penduduk atau rumah tangga. Ketahanan pangan rumah tangga menurut Khomsan (2008) diwujudkan oleh kemampuan penduduknya dalam mengakses dan mengonsumsi makanan sesuai syarat gizi untuk mencapai derajat hidup sehat. Oleh karena itu, konsumsi pangan yang baik adalah tidak sekedar jumlah yang cukup, tetapi juga memenuhi kecukupan standar gizi yang diperlukan, di Indonesia standar kecukupan dapat mengacu pada angka kecukupan gizi (AKG) yang dirilis dari Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) sesuai dengan masa dikeluarkannya angka AKG tersebut. Mengingat data analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah tahun 2008 dan 2011, maka AKG lebih relevan mengacu hasil WNPG IX tahun 2008. Masalah pangan lebih banyak dijumpai di perdesaan karena kehidupan di perdesaan mayoritas berada dalam garis kemiskinan. Sementara itu, masalah pangan yang lebih mudah diidentifikasi adalah dilihat dari konsumsi gizinya. Selama ini zat gizi yang sering digunakan sebagai indikator kecukupan gizi adalah konsumsi dari energi dan protein karena kekurangan kedua zat gizi makro tersebut masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Selain cukup, konsumsi gizi tersebut juga harus seimbang dan beragam (Hardinsyah et al., 2014). Dengan demikian, perwujudan ketahanan pangan dan gizi tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan individu dan masyarakat, peningkatan daya saing sumber daya manusia, yang selanjutnya menjadi daya saing bangsa (Bappenas, 2011). Dalam kehidupan, manusia tidak hanya memerlukan konsumsi pangan, tetapi juga nonpangan. Oleh karena itu, dalam menentukan garis kemiskinan, BPS (2012) menggunakan pengeluaran minimum untuk kebutuhan pangan dan nonpangan. Kajian Mauludiyani dan Ariani (2014) menggunakan pangsa pengeluaran pangan sebagai indikator kesejahteraan, semakin tinggi pendapatan maka pangsa pengeluaran pangan semakin kecil.

Metrics

  • 201 views
  • 150 downloads

Publisher

IAARD

The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) is an agricultural resear... see more