Agenda ke Depan Peningkatan Kesejahteraan Petani

  • Book chapter
  • IAARD
  • 2015
  • Indonesia

Abstract

Secara makro, perekonomian Indonesia selama periode 2004–2013 tumbuh dengan cepat, namun pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut juga diiringi dengan laju inflasi yang cukup tinggi, sehingga pendapatan riil secara nasional tidak tumbuh secepat pertumbuhan pendapatan menurut harga berlaku. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia ternyata mempunyai dampak yang tidak dikehendaki, yaitu timbulnya senjang pendapatan per kapita yang semakin meningkat. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut lebih terkonsentrasi di Jawa, sehingga pemerataan pendapatan menurut wilayah pun juga cenderung semakin timpang. Sumbangan sektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan) cenderung menurun dari 12,24% pada tahun 2000, menjadi 10,59% pada tahun 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi transformasi ekonomi nasional dari sektor pertanian sebagai sumber pendapatan nasional, menuju ke dominasi sektor nonpertanian sebagai sumber pendapatan. Menurunnya sumbangan sektor pertanian terhadap pendapatan nasional perlu diimbangi dengan kebijakan untuk memberikan insentif bagi pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan industri perdesaan, yang dapat menyerap kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian. Untuk itu, pemerintah perlu mempercepat dan memperluas pembangunan sarana dan prasarana pertanian di kawasan timur Indonesia, serta mempercepat konektivitas antarwilayah di Indonesia untuk mengatasi kesenjangan pembangunan ekonomi pada umumnya dan pembangunan sektor pertanian pada khususnya. Di samping itu, sehubungan dengan transformasi sumber pendapatan rumah tangga dari pertanian ke nonpertanian, petani di perdesaan perlu dipersiapkan agar mereka mempunyai kemampuan untuk menganekaragamkan sumber pendapatan rumah tangga dengan mengembangkan kegiatan usaha lain yang lebih produktif. Sejalan dengan data makro, data Patanas menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga di perdesaan meningkat, namun laju peningkatan pendapatan dari nonpertanian lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dari pertanian. Struktur pendapatan rumah tangga khususnya di desa berbasis padi sawah masih didominasi oleh pendapatan dari pertanian, walaupun cenderung menurun. Sebaliknya, sumbangan pendapatan pertanian di desa berbasis sayuran cenderung meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha pertanian sayuran yang mempunyai nilai tambah tinggi cukup berkembang sehingga menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga petani yang dominan. Namun, tidak demikian halnya yang terjadi pada desa yang berbasis lahan kering palawija. Pendapatan pertanian bagi rumah tangga perdesaan pada agroekosistem lahan kering palawija semakin tidak dominan dan juga tidak dapat diandalkan sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga perdesaan.

Metrics

  • 124 views
  • 72 downloads

Publisher

IAARD

The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) is an agricultural resear... more