Kelembagaan Agribisnis pada Desa Berbasis Komoditas Perkebunan

  • Herman Supriadi
  • Wahyuning K. Sejati
  • Book chapter
  • IAARD
  • 2015

Abstract

Kelembagaan merupakan organisasi atau kaidah baik formal maupun informal yang mengatur perilaku dan tindakan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Dari beberapa hasil kajian, Syahyuti (2006) menyimpulkan bahwa kelembagaan memiliki perhatian utama pada perilaku yang berpola, yang sebagian besar berasal dari norma-norma yang dianut. Kelembagaan berpusat pada tujuan, nilai atau kebutuhan sosial utama. Lebih jauh dikatakan bahwa kelembagaan mengacu kepada suatu prosedur, kepastian, dan panduan untuk melakukan sesuatu. Handayani (2013) menyebutkan bahwa kelembagaan mengandung dua pengertian, yaitu institusi dan nilai/norma: sebuah institusi yang di dalamnya terkandung nilai/norma. Nilai dan norma yang ada dalam institusi inilah yang mengatur jalannya institusi tersebut. Sementara, agribisnis merupakan bisnis dalam sektor pertanian baik dari hulu hingga hilir yang mencakup seluruh aktivitas yang meliputi produksi, penyimpanan, pemasaran, prosesing bahan dasar dari usaha tani, serta suplai input dan penyediaan pelayanan penyuluhan, penelitian, dan kebijakan. Jadi kelembagaan agribisnis adalah institusi yang terkait dengan agribisnis atau bisnis pertanian yang di dalam institusi tersebut terdapat nilai-nilai dan norma yang mengaturnya. Dalam agribisnis lahan kering berbasiskan perkebunan terdapat berbagai kelembagaan di antaranya kelembagaan sarana produksi, kelembagaan pemasaran, dan kelembagaan penyuluhan. Peran kelembagaan petani dalam mendukung keberlanjutan pertanian sangat diperlukan untuk memberikan masukan dan pertimbangan bagi pelaku pembangunan dalam rangka pengembangan ekonomi lokal (Noviatirida, 2011). Dalam melakukan usaha taninya petani mempunyai hubungan kerja dengan lembaga-lembaga pendukungnya, seperti kelompok tani, pedagang saprodi, pedagang hasil pertanian, penyuluh, koperasi, bank, dan pemerintah daerah (Cahyono dan Tjokropandojo, 2012). Lembaga pemasaran dalam distribusi hasil pertanian dalam usaha tani merupakan badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditas pertanian dari produsen kepada konsumen akhir serta memiliki hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Keberadaan lembaga pemasaran dikarenakan oleh dorongan atau keinginan konsumen untuk mendapatkan komoditas yang sesuai dengan waktu, tempat, dan bentuk yang diinginkan. Timbal Balik dari konsumen adalah memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran berupa margin pemasaran (Zulfahmi, 2012). Makalah ini bertujuan untuk melihat dinamika kelembagaan agribisnis tanaman perkebunan di agroekosistem lahan kering. Kelembagaan agribisnis yang dikaji meliputi kelembagaan sarana produksi, kelembagaan pemasaran, dan kelembagaan kelompok tani dan penyuluhan.

Metrics

  • 28 views
  • 16 downloads

Publisher

IAARD

The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) is an agricultural resear... more