Marx Atau Machiavelli? Menuju Demokrasi Bermutu di Indonesia dan Amerika

R. William Liddle
Working Paper Centre for the Study of Islam and Democracy • December 2011 Indonesia • Italy • Japan

Abstract

Di dunia modern kapitalisme merupakan sekaligus dasar mutlak dan tantangan terbesar demokrasi bermutu tinggi, tempat distribusi political resources, sumber daya politik, disamakan atau diratakan. Paradoks ini dijelaskan secara meyakinkan oleh ilmuwan politik Robert Dahl, teoretisi tersohor demokrasi pada paruh kedua abad ke-20. Untuk mengatasi tantangan ini, kita perlu meninggalkan tradisi teoretisi sosial Karl Marx dan menggantikannya dengan pendekatan filsuf politik Niccolo Machiavelli. Pendekatan Marx terjerumus dalam perang antarkelas dan kurang peka pada cara-cara lain untuk menambah dan meratakan sumber daya politik. Sebaliknya, pendekatan Machiavelli terfokus pada peran individu selaku aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik demi pencapaian tujuannya. Sang individu ciptaan Machiavelli merupakan basis yang menjanjikan buat sebuah theory of action, teori tindakan, baru yang mampu membantu kita memperbaiki mutu demokrasi di dunia modern. Di Indonesia Nurcholish Madjid termasuk aktor politik penting yang memengaruhi saya memilih pendekatan ini. Pada zaman kita setidaknya empat ilmuwan politik di Amerika telah mengembangkan dengan baik pendekatan indi- vidualis Machiavelli. Bagi Richard Neustadt, pendiri Harvard Kennedy School, sumber daya politik terpenting seorang presi- den adalah the power to persuade, kekuatan untuk meyakinkan. Lagi pula, Neustadt menawarkan lima ukuran untuk menguji keberhasilan presidensial. James MacGregor Burns, intelektual dan aktivis kiri ternama, menciptakan konsep-konsep follower- ship, kepengikutan, dan transforming leadership, kepemimpinan yang mengubah masyarakat secara mendasar. Perubahan mendasar itu bergantung pada pengejaran moralitas tinggi antara pemimpin dan pengikut secara intensif, bersama dan terus-menerus. John Kingdon, profesor kawakan di Universitas Michigan, menerjemahkan konsep-konsep pokok Machiavelli dalam bahasa ilmu politik empiris dan public policy studies, studi kebi- jakan umum. Kita diajak membayangkan proses pembuatan ke- bijakan umum yang terdiri atas tiga aliran: penemuan masalah, penciptaan usul-usul kebijakan, dan kejadian-kejadian politik. Tiga aliran itu dipertemukan oleh policy entrepreneurs, wira- swastawan kebijakan, yang peka terhadap terbuka dan tertu- tupnya decision windows, jendela keputusan. Richard Samuels, pakar Jepang di Massachusetts Institute of Technology, me- nawarkan kerangka baru yang berbobot sambil membicarakan proses modernisasi di Jepang dan Italia. Tiga unsur utamanya: alat-alat mobilisasi buying, membeli, bullying, menggertak, dan inspiring, mengilhami; peran legacy, warisan, dalam proses pengambilan keputusan; serta constraint-stretching, pelong- garan kendala, yang konon dilakukan semua pemimpin yang berhasil mengubah sejarah. Selain teori tindakan, perbaikan mutu demokrasi juga memerlukan penambahan dan pemerataan sumber daya politik secara langsung. Penelitian yang paling menjanjikan tentang masalah itu sedang dilakukan atas nama capabilities approach, pendekatan kemampuan, oleh sejumlah kecil ekonom dan fil- suf di bawah bimbingan Amartya Sen dan Martha Nussbaum. Namun, kegiatan intelektual saja tak cukup. Selain itu, peme- rataan sejati memerlukan tindakan politik yang dilakukan oleh orang-orang yang mengidamkan demokrasi bermutu.

Metrics

  • 156 views
  • 93 downloads

Publisher

Centre for the Study of Islam and Democracy

Centre for the Study of Islam and Democracy (PUSAD) is an independent institution under the Wakaf... see more