Telaah Penentuan Arah Kiblat Dengan Perhitungan Trigonometri Bola Dan Bayang-bayang Gnomon Oleh Matahari

Moedji Raharto • Dede Jaenal Arifin
Journal article Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia • 2011

Download full text
(Bahasa Indonesia, 7 pages)

Abstract

Solusi penentuan sudut arah Kiblat dapat diperoleh melalui informasi koordinat geografis posisi pengamat, posisi Ka'bah dan memanfaatkan rumus segitiga bola (trigonometri bola) yang menghubungan antara parameter yang diketahui dan sudut arah Kiblat yang ingin diketahui. Solusi harga nominal arah Kiblat dengan cara ini bergantung pada informasi dan cara penentuan koordinat geografis. Penentuan posisi beberapa titik di sekitar Masjid ditentukan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) GPS-map 60CSx. Kemudian informasi sudut arah Kiblat itu dipergunakan sebagai masukan dalam penentuan arah Kiblat dengan bayang – bayang Gnomon oleh Matahari. Alat yang dipergunakan adalah Mizwala, Gnomon dan bidang dial. Pertama ditentukan arah azimuth bayang – bayang Gnomon pada tanggal dan jam pengamatan di lokasi pengamat, dengan demikian dapat ditentukan arah Utara – Selatan sebenarnya (bukan Utara – Selatan magnit Bumi), setelah itu arah Kiblat ditentukan dengan referensi/acuan arah Utara – Selatan yang telah ditentukan sebelumnya. Cara berikutnya adalah penentuan arah dan tinggi bayang – bayang Gnomon di lokasi pengamat saat Matahari berada di atas Ka'bah. Telaah awal perbandingan hasil penentuan dengan dua cara ini untuk lokasi di sekitar masjid Sabilushalihin, Buah Batu, Bandung tidak terdapat perbedaan nominal yang berarti, jadi kedua metode tersebut mempunyai presisi yang kurang lebih setara. Solution of finding kiblah direction can be obtained from the geographical data and the geographical position of Ka'bah with spherical triangle's formula which connect the three parameters, spherical angle of kiblah direction from an observer and the geographic position of the observer and the geographic position of Ka'bah in Makkah. The result of calculation will depend on the precision of input data, how the data obtained through measurement. Here we measured geographic position several points around the mosque using GPS (Global Positioning System) GPS-map 60CSx and we used geographic data of Ka'bah. The result of calculating kiblah direction then will be used as comparison information of the kiblah direction obtained through the shadow of the sun using Gnomon and dial plane. We used Mizwala for searching or obtaining the kiblah direction using Gnomon and dial plane. First we determine the azimuth direction of shadow of Gnomon at the date and time (the azimuth data of the shadow is calculated at the date and the time of observation) when we make observation in the location of observer, then the true north – south direction can be derived by turning the value of azimuth in the dial plane in the same with azimuth of the shadow. Then the calculated kiblah direction and the true direction can be used to determine the kiblah direction. The other methods is to determine the shadow of kiblah direction when the sun at the zenith of the Ka'bah. We compare the two methods in the area of Sabilushalihin mosque, Buah Batu, Bandung and we conclude that the two methods have comparable precisions in determining the kiblah direction.

Metrics

  • 905 views
  • 1741 downloads

Journal

Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia

Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia merupakan jurnal resmi yang diterbitkan oleh Himpunan Fis... see more