Pemolisian Konflik Keagamaan di Indonesia (Edisi Ringkas)

Samsu Rizal Panggabean • Ihsan Ali-Fauzi
Book Centre for the Study of Islam and Democracy • March 2014 Haiti • Indonesia

Abstract

Buku ini berawal dari riset mengenai pemolisian konflik-konflik agama di Indonesia pasca-Orde Baru. Konflik-konflik agama di sini dikhususkan dalam dua bentuknya yang paling menonjol beberapa tahun terakhir, yakni konflik sektarian (intra-agama), yang diakibatkan oleh sikap anti-Ahmadiyah dan anti-Syiah, dan konflik terkait tempat ibadat (antar-agama). Ada perkembangan yang patut disyukuri tapi juga disayangkan dalam pengelolaan kehidupan keagamaan di Indonesia pasca-Orde Baru. Di satu sisi, kekerasan kolektif antar-agama, seperti yang terjadi di Ambon, Maluku Utara, dan Poso (Sulawesi Tengah) sudah berhenti sejak sekitar sepuluh tahun lalu. Namun, di sisi lain, beberapa laporan menunjukkan peningkatan insiden konflik antar-agama, khususnya terkait rumah ibadat, dan konflik sektarian intra-agama (Islam), khususnya terkait Jamaah Ahmadiah Indonesia (JAI) dan komunitas Syiah. Meski cukup sering dibicarakan, masalah di atas jarang sekali ditinjau dari sisi pemolisian. Buku ini mencoba membahasnya, dengan dua pertanyaan utama. Pertama, mengapa pemolisian insiden konflik sektarian dan tempat ibadah tidak efektif pada kasus-kasus tertentu dan efektif pada kasus-kasus lainnya? Dan kedua, apa yang menjelaskan variasi dalam keberhasilan dan kegagalan pemolisian di atas? Buku ini tidak melihat polisi sebagai pihak yang berdiri otonom, melainkan menempatkannya sebagai bagian dari pemerintah (“birokrat pada tingkat-bawah”), di satu sisi, dan pihak yang “mencerminkan masyarakat di mana mereka bertugas”, di sisi lain. Dengan tilikan itu dan memanfaatkan sumber-sumber primer, buku ini mengungkap pemolisian konflik agama di delapan kasus: dua kasus anti-Ahmadiyah (Manis Lor, Cirebon, dan Cikeusik, Banten), dua kasus Sunni-Syiah (Bangil, Pasuruan, dan Sampang, Madura), dua kasus terkait gereja (HKBP Filadelfia, Bekasi, dan GKI Yasmin, Bogor), dan dua kasus sengketa masjid (Nur Musafir di Batuplat, Kupang, dan Abdurrahman di Wolobheto, Ende). Buku ini adalah versi singkat dari buku utuh dengan judul yang sama: Pemolisian Konflik Keagamaan di Indonesia dan dapat diunduh secara gratis dari website kami. Dalam versi ini, kami mempersingkat paparan mengenai kasus-kasus yang kami pelajari. Di sini kami juga tidak memasukkan daftar singkatan, bibliografi, indeks, dan satu lampiran. Mereka yang ingin membaca versi lengkap buku ini dapat mengunduhnya di alamat website di atas. Versi ini sengaja diterbitkan untuk keperluan sosialisasi hasil riset ini ke khalayak yang lebih luas, terutama kepada anggota Polri, para pemimpin agama dan organisasi sosial dan politik, para pegiat perdamaian dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan pihak media massa. Itu sebabnya, dalam versi ini, kami memasukkan sambutan Wakapolri, Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti, dan komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adrianus Meliala, mengenai pentingnya riset dan buku ini. Dengan penerbitan ini, kami berharap bahwa kemitraan Polri dan seluruh unsur negara dan masyarakat lainnya bisa berjalan makin baik. Hasil riset ini menunjukkan betapa Polri tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri dalam menangani konflik-konflik agama yang belakangan makin sering terjadi dan mengambil bentuk kekerasan.

Metrics

  • 119 views
  • 95 downloads

Publisher

Centre for the Study of Islam and Democracy

Centre for the Study of Islam and Democracy (PUSAD) is an independent institution under the Wakaf... see more

Funders

Danish International Development Agency

The Asia Foundation