Teknik Penanaman Benih Bawang Merah Asal True Shallot Seed Di Lahan Suboptimal

Gina Alya Sopha • Muhammad Syakir • Wiwin Setiawati • Nfn Suwandi • Nani Sumarni
Journal article Jurnal Hortikultura • June 2017 Indonesia

Download full text
(Bahasa Indonesia, 10 pages)

Abstract

Keberhasilan produksi umbi bawang merah dengan menggunakan TSS (True Shallot Seed) di lahan sub optimal tergantung banyak faktor, antara lain umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Tujuan penelitian adalah menghasilkan umur benih, kerapatan tanaman, dan dosis pupuk N yang tepat untuk pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang merah asal TSS yang optimal. Penelitian lapangan dilakukan di lahan sub optimal Subang-Jawa Barat (100 m dpl) dengan jenis tanah Latosol Merah Kuning, dari bulan Juli sampai Oktober 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan tiga ulangan dan tiga faktor perlakuan. Faktor pertama (A): Umur benih di persemaian, terdiri atas: a, = 4 minggu setelah semai, a2 = 5 minggu setelah semai, dan a3 = 6 minggu setelah semai. Faktor kedua (B): Kerapatantanaman, terdiri atas: b1 = 150 tanaman/m2 dan b2 = 100 tanaman/m2. Faktor ketiga (C): Dosis pupuk N, terdiri atas: Cl = 150 kg N/ha, C2=225 kg N/ha, dan C3 = 300 kg N/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) dipengaruhi oleh umur benih, tetapl tidak dipengaruhi oleh kerapatan dan dosis pupuk N. Umur benih 6 minggu setelah 'sernat memberikan tinggi tanaman paling tinggi dan jumlah daun paling banyak. Bobot umbi basah per tanaman tidak dipenqaruhi oleh umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Namun bobot umbi basah per petak dipengaruhi oleh kerapatan tanaman. Makin rapat tanaman (150 tanaman/m2) makin tinggi hasil bobot umbi basah per petak. Bobot umbi kering eskip per tanaman dan bobot umbi kering esktp per petak, serta susut bobot umbi dipengaruhi oleh interaksi umur benih dan kerapatan tanaman. Umur benih 6 minggu dengan kerapatan 150 tanaman/rrr menghasilkan bobot umbi kering eskip per tanaman (11,417 g/tanaman) dan bobot umbi kering eskip per petak (2,433 kg/2.4 rrr') paling tinggi, serta susut bobot umbi paling rendah (33,63%). Kombinasi umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N yang menghasilkan bobot umbi basah dan bobot kering eskip tertinggi adalah umur biblt 6 minggu setelah semai, kerapatan tanaman 150 tanarnan/m' dan dosis 225 kg N/ha, yaitu masing­masing sebesar 4,195 kg/2,4m2 dan 2,80 kg/2,4 m2. Penggunaan benih asal TSS dapat digunakan sebagai alternatif dalam budidaya bawang merah.

Metrics

  • 640 views
  • 1205 downloads

Journal

Jurnal Hortikultura

Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikul... see more