Kebijakan Pajak Ekspor Terhadap Perkembangan Ekspor Kakao Di Indonesia

Elfiana Elfiana
Journal article Lentera: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi • 2014 Индонезия

Download full text
(Bahasa Indonesia, 8 pages)

Abstract

Perekonomian suatu negara, kebijakan perdagangan Internasional berperan sangat penting. Kebijakan perdagangan tersebut pada umumnya diutamakan untuk perluasan pasar Internasional dan proteksi bagi pembeli domestik (industri atau rumah tangga). Namun tidak tertutup kemungkinan, kebijakan perdagangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak/pungutan dan terkait dengan kebijakan luar negeri suatu negara atau alasan-alasan politik. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah tentang penerapan PE untuk biji kakao lebih diutamakan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan bagi industri dalam negeri penghasil produk turunan kakao, seperti industri makanan dan minuman. Kakao merupakan salah satu komoditi ekspor terbesar Indonesia sehingga komoditi kakao sering mendapat perhatian khusus dari pemerintah, dimana pemerintah pernah menetapkan Pajak Pertambahan Nilai 10 persen (PPN) untuk komoditi pengolahan kakao di dalam negeri.Kata Kunci: Kebijakan Pajak Ekspor dan Ekspor Kakao PENDAHULUANKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa Negara. Disamping itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI), serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit.Konsumsi kakao dunia didominasi oleh negara-negara Eropa, Amerika Serikat, atau negara-negara industri dengan pendapatan perkapita jauh di atas US dollar 1.000. Eropa mengkonsumsi sekitar 50 persen dari total konsumsi kakao dunia, sementara Amerika Serikat 35 persen, diikuti oleh negara-negara Asia 13 persen dan Afrika 3 persen. Tren konsumsi produk kakao di Eropa terus bertambah dari 1-5 persen sejak tahun 2002-2004 dan tren tersebut cenderung meningkat walaupun hanya bertambah 1 persen dibandingkan tahun 2003-2004. Sementara itu, masih pada tahun yang sama konsumsi kakao di Amerika Serikat sempat mengalami penurunan sebesar 1 persen. Eropa dan Amerika Serikat konsumsi kakao cenderung tidak statis, tern kenaikan konsumsi kakao di Asia dan Afrika terlihat sangat signifikan, terutama di negara-negara Asia, yaitu rata-rata bertambah 6 persen pertahunnya. Sementara itu peningkatan konsumsi di negara-negara afrika adalah sebesar 8 persen bahkan meningkat sampai diatas 10 persen pada tahun 2004-2005. Hal ini selain karena pertambahan jumlah penduduk yang signifikan, juga disebabkan peningkatan kesejahteraan. Konsumsi kakao di Asia dan Afrika adalah kurang dari 0,2 kg/kapita/tahun, sementara Indonesia hanya 0,06 kg/kapita/tahun. Sementara untuk konsumsi kakao dunia itu di dominasi oleh Eropa yang berada pada urutan pertama, kemudian Afrika, selanjutnya Amerika dan yang terakhir adalah Asia dan Oceania dengan jumlah konsumsi yang paling rendah.

Metrics

  • 16 views
  • 4 downloads